Pasien DBD Terus Bertambah di RSUD

89
ist

Sawangan | jurnaldepok.id
Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok bertambah. Setiap hari jumlah pasien yang dirawat terus bertambah. Hingga Rabu (30/1) jumlah pasien yang dirawat di RSUD Depok mencapai 194 kasus.

Humas RSUD Depok, Hadi mengatakan, pihaknya telah menambah sarana dan prasarana di rumah sakit. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi membludaknya pasien DBD yang harus dirawat.

Rata-rata, kata dia, pertambahan jumlah pasien DBD yang dirawat di RSUD Depok sebanyak 10 pasien. Pada Senin (28/1) jumlahnya 177 pasien. Bertambah 10 pasien pada Selasa (29/1) menjadi 187 orang.

“Pasien DBD itu masuknya di ruang rawat inap yang berada di lantai 6 dan lantai 7. Sekarang (semenjak lonjakan DBD) masing-masing lantai ditambah lima tempat tidurnya. Yang biasanya lantai 6 ada 45 bed sekarang ditambah menjadi 50, kemudian lantai 7 yang awalnya ditambah 40 bed sekarang ditambah jadi 45 bed,” ujarnya, Kamis (31/1).

Untuk melayani pasien, langkah yang juga dilakukan adalah dengan memaksimalkan karyawan yang ada. Dikatakan dia, idealnya satu orang perawat merawat enam sampai tujuh pasien. Faktanya saat ini ketika pasien melonjak maka satu perawat terpaksa merawat sampai 20 pasien.

“Ini yang bisa kami lakukan agar seluruh pasien tetap bisa dilayani dengan maksimal,” ungkapnya.

Untuk mengatasi membludaknya pasien, maka pihaknya berkoordinasi dengan pihak rumah sakit swasta yang di Depok. Pihak RS swasta diminta untuk bisa menampung pasien DBD yang tidak bisa ditampung di RSUD Depok.

“Apabila kapasitas dan kemampuan RSUD bila sudah overload akan dirujuk ke fasilitas kesehatan lainnya dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Depok,” tukasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita mengatakan, saat ini kasus DBD masuk dalam status siaga. Oleh karenanya seluruh warga diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih sehat (PHBS) dan menjaga kebersihan rumah serta lingkungan.

Selain itu memberantas sarang nyamuk juga sangat dianjurkan. Menurutnya, dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan serta PSN menjadi cara efektif mencegah penyakit DBD.

“Kami sarankan melakukan PSN, jangan fooging. Kalau fooging itu kurang efektif karena bisa jadi tidak merata. Kemudian, efek dari asap yang dikeluarkan juga kurang baik untuk kesehatan,” katanya.

Dari 63 kelurahan yang ada di Depok, beberapa diantaranya menjadi wilayah paling banyak jumlah kasus DBD yaitu Harjamukti, Beji, Cipayung, Mekarjaya dan Cimanggis. Menurutnya, sampai saat ini penyebarannya nyaris merata.
“Ini belum masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa atau KLB. Karena belum semua kelurahan. Masih ada sembilan kelurahan yang belum ada laporannya,” ujarnya.

Nova mengungkapkan, wilayah yang paling rawan ditemukan tempat berkumpulnya sarang nyamuk Aedes Agypti ini bukan hanya di saluran air atau got.

“Yang paling rentan itu justru di dalam rumah, misalnya di dispenser coba periksa. Karena dari beberapa kasus, yang kami temukan justru di dalam rumah,” katanya.

Selain gencar melakukan penyuluhan dan sosialisasi PSN, Dinkes juga berjanji akan semakin mengoptimalkan pengawasan untuk mencegah terjadinya DBD di sejumlah wilayah.

“Kalau dilihat dari angkanya, kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah. Karena itu mari kita jaga kebersihan,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here