Khutbah Jumat: Agar Bahagia di Hari Tua

55
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam kitab al-Mawaidz al-Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar didapat informasi agar bahagia di hari tua kita perlu merasa malu kepada Allah. Hal yang sama ditemui juga dalam kitab Tafsir Surah Yasin karya Syaikh Khamami Zadah.

Sementara dalam kitab Tafsir Jalalain karya Duo Imam Jalaluddin, yakni al-Mahalli dan al-Suyuthi dan kitab Tafsir Munir karya Syaikh Nawawi untuk bahagia di hari tua adalah merenungi setiap fase kehidupan dari lemah, kuat, hingga lemah lagi.

Yang dimaksud pengarang kitab Tafsir Jalalain dan kitab Tafsir Munir adalah makna firman Allah, “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasin/36: 68).

Begitu juga, “Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban” (QS. al-Rum/30: 54).

Dari dua makna ayat ini didapat pelajaran bagi mereka yang sudah tua untuk bersyukur. Karena mereka telah melewati tiga fase hidup. Cara bersyukurnya adalah terus lanjut beribadah hingga ajal menjemput. Secara psikoterapis, bersyukur membuat pelakunya bahagia.

Begitu juga memperbanyak ibadah dapat memunculkan rasa tunduk (pasrah) kepada Allah dan ketenangan. Ketenangan berbeda dengan kesenangan. Orang yang tenang akan terus merasa bahagia. Sementara orang yang senang hanya bahagia sesaat saja.

Berikutnya, mereka yang sudah tua sepantasnya malu berbuat dosa. Sebab dosalah yang secara psikologis bertentangan dengan hati kecil manusia. Berbuat dosa menghapus rasa bahagia dan menggantinya dengan kekhawatiran dan ketakutan.

Makna hadits qudsi seperti inilah yang dimaksud Syaikh Muhammad bin Abu Bakar, “Wahai hamba-Ku, usiamu sudah tua, kulitmu sudah keriput, tulangmu sudah rapuh, ajalmu sudah dekat, pun kepulanganmu kepada-Ku sudah tiba.

Karena itu malulah kepada-Ku (berbuat dosa, sebab kalau kamu malu berbuat dosa) Aku juga malu (tidak mau) membakarmu di neraka karena Aku menghormati ubanmu”. Tentu rambut yang dihormati adalah yang dipakai beribadah dari hitam hingga putih.

Hadits qudsi serupa dikutip juga oleh Syaikh Khamami Zadah, “Uban adalah cahaya-Ku. Aku malu (tidak mau) membakar cahaya-Ku dengan api neraka-Ku”. Yakinilah, merasa malu berbuat dosa akan menambah rasa bahagia. Apalagi di hari tua. Untuk apa lagi berbuat dosa.

Jadi agar bahagia di hari tua kita harus bersyukur karena masih hidup sampai pada masa tua. Satu nikmat yang orang muda belum tentu meraihnya. Kedua agar bahagia kita harus malu berbuat dosa, karena dosa merusak bahagia. Terakhir, uban bukan hanya tanda tua, tapi tanda bahagia.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here