Khutbah Jumat: Ibadah Ritual Cermin Ibadah Sosial

69
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen MKPI FDIK UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta

Dalam al-Qur’an dikemukakan bahwa yang diperintahkan untuk beribadah adalah jin dan manusia, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia selain agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. al-Dzariyat/51: 56). Menurut Syaikh Nawawi dalam Tafsir Munir, ibadah wajib dilakukan secara sukarela atau terpaksa.

Selain itu, bagi Syaikh Nawawi, beribadah harus melibatkan hati dan anggota badan baik ibadah ritual (mahdhah) maupun ibadah sosial (ghair mahdhah). Karena ibadah ritual sejatinya harus menjadi cermin ibadah sosial. Artinya, orang yang rajin shalat harus haruslah jadi orang yang suka menolong sesama.

Begitu juga mereka yang berpuasa seharusnya suka benar memberi makan orang-orang yang sedang merasakan lapar. Ibadah harus meningkat dari ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa kepada ibadah ghair mahdhah seperti membuat mereka yang lapar jadi kenyang dan yang menangis jadi tertawa.

Pertanyaannya, bagaimana caranya agar ibadah ritual menjadi cermin ibadah sosial? Untuk bisa melaksanakan ibadah ritual dan ibadah sosial sekaligus atau ibadah mahdhah dan ghair mahdhah secara seimbang kuncinya, menurut Syaikh Nawawi, adalah dua hal di atas.

Pertama, harus dengan sukarela maupun terpaksa. Maksudnya kalau kita belum bisa sukarela shalat dan puasa, misalnya, tidak masalah dilaksanakan secara terpaksa dalam rangka latihan agar terbiasa dan sukarela. Demikian pula, kalau kita masih terpaksa memberi makan mereka yang kelaparan, sedapat mungkin dilanjutkan hingga jadi sukarela.

Kedua, harus melibatkan hati dan anggota badan. Artinya, spirit ibadah bermula dari hati lalu menjalar ke seluruh anggota badan, baik ibadah ritual (mahdhah) maupun ibadah sosial (ghair mahdhah). Artinya ketika hati merasa tunduk kepada Allah, maka badan ikut membungkuk, ruku’ dan sujud. Totalitas ibadah kepada Allah dapat mengantarkan cinta kepada manusia.

Inilah transformasi ibadah dari ritual-individual secara vertikal kepada sosial-komunal secara horisontal. Transformasi ibadah semacam ini harus dimulai secara individual dan didengungkan terus-menerus secara komunal baik secara terpaksa maupun sukarela dengan melibatkan hati dan anggota badan.

Lalu sampai kapan kita beribadah baik ibadah ritual maupun ibadah sosial? Allah jawab, “Beribadahlah (kepada) Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian)” (QS. al-Hijr/15/99). Bagi Syaikh Nawawi ayat ini memerintahkan agar kita beribadah sepanjang hidup, tak lalai barang sekejap pun.*

Dengan dua kunci yang ditawarkan Syaikh Nawawi di atas, semoga ibadah ritual kita terpantul dalam ibadah sosial kita. Aamiin

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here