Polemik Zulhas Yang Mengolok-olok Shalat, Ketua PAN Depok Buka-bukaan

337
H Igun Sumarno

Margonda | jurnaldepok.id
Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Depok, H Igun Sumarno angkat bicara terkait polemik yang menerpa Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas) dalam candaanya mengenai shalat beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat ummat Islam marah dan merasa tersakiti dengan candaannya.

“Jika diteliti dari pernyataan Ketua Zulhas kemarin, titik beratnya itu bukan mengenai shalat dan bacaan-bacaan shalat. Tetapi yang dimaksud itu adalah dengan memanasnya situasi di ajang pemilihan capres ini ada beberapa kelompok-kelompok yang militan dan memandang bahwa dia adalah pilihan koalisi tertentu,” ujar Igun kepada Jurnal Depok, Kamis (21/12/23).

Diibaratkan, kata Igun, ketika ada yang membaca Al Fatihah pun di akhir ayat tidak menyebut amin.

“Pernyataan itupun disampaikan langsung oleh Anies dan UAS kok. Pak Zulkifli Hasan ini hanya khawatir dengan permasalahan yang ada, dia itu mengajak jangan sampai masyarakat Indonesia terpecah gegara beda pilihan. Pemilihan ini kan hanya lima tahun sekali, namun perpecahan tidak lupa dalam waktu 10 tahun,” paparnya.

Igun yang juga menjabat sebagai Anggota Badan Kehormatan DPRD Depok melihat, pernyataan ketua umumnya hanya sebuah kekhawatiran perpecahan ummat.

“Bukan berarti seorang Zulkifli Hasan bercanda tentang bacaan shalat, kita sama-sama tahu Ketum itu orang nya religius yang paham dengan agama. Enggak mungkin melakukan penistaan agama dan segala macam,” jelasnya.

Igun mengaku dirinya telah melakukan konfirmasi ke Ketua Umum CMMI kenapa itu bisa terjadi.

“Beliau mengatakan bahwa itu hanya kesalahpahaman, kami sampaikan ini agar masyarakat bisa paham,” ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, KH Syamsul Yakin turut menyoroti candaan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan yang mengolok-olok tatacara shalat.

“Sesuatu yang bersifat ajaran agama seperti membaca Al Fatihah kemudian amin, kan itu ajaran agama, meskipun itu sunah. Perlu diketahui, yang dibaca sesudah Al Fatihah itu bukan AMIN tapi A’MINN…bukan AMIN yang saat ini dikenal sebagai singkatan Anies-Muhaimin,” ujar Syamsul kepada Jurnal Depok, Rabu (20/12/23).

Syamsul juga menjelaskan, jari telunjuk pada saat melakukan tahyat merupakan penegasan bahwa Allah maha esa.

“Karena ulama mengajarkan menunjukkan jari telunjuk pada tahyat dilakukan pada saat membaca dua kalimat syahadat. Baik amin maupun menunjukan jari telunjuk pada saat tahyat tidak ada kaitannya dengan politik,” paparnya.

Syamsul yang merupakan dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga menilai, dalam berpolitik tidak perlu seserius itu, apalagi sampai mencampuradukan antara agama dan politik yang tidak ada kaitannya.

“Jika ingin mendapatkan pahala sunah bacalah A’MINN…setelah Fatihah, begitu juga jika ingin mendapat pahala sunah lakukan tahyat dengan menunjukan jari telunjuk. Ini tidak ada kaitannya bahwa telunjuk satu pilihannya nomor satu, telunjuk dua pilihannya nomor dua dan seterusnya,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, candaan Zulhas dianggap tidak tepat dan sebaiknya tidak dijadikan bahan candaan karena ini merupakan ajaran agama yang bersifat suci, terlebih shalat merupakan sesuatu yang sakral.

“Mari dewasa dalam berpolitik, jaga persatuan dan kesatuan, jadikan pesta demokrasi ini yang bergembira dengan menghormati seluruh masyarakat dan ummat yang ada di Indonesia,” tegasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here