Khutbah Jumat: Menggenggam Bara

124
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Waketum MUI Kota Depok

Menjaga agama pada akhir zaman seperti menggenggam bara. Ini adalah penggalan hadits Nabi yang dikutip Syaikh Muhammad bin Abi Bakar dalam karyanya yang terkenal dan monumental, yakni al-Mawaidz al-Ushfuriyah atau Nasihat Para Burung.

Bersumber dari Mu’adz bin Jabal, hadits Nabi itu dibuka dengan prediksi, “Kelak akan datang satu zaman menimpa manusia”. Tentu prediksi atau ramalan Nabi ini adalah nubuwah yang pasti terjadi. Berbeda dengan prakiraan cuaca yang seringkali salah.

Isi prediksi Nabi, “(pertama) mereka akan melanggar sunahku dan mengkreasi bid’ah. (Kedua), siapa saja yang mengikuti sunahku pada saat itu, niscaya menjadi orang asing dan tidak ada yang menemani. (Ketiga), sebaliknya siapa saja yang mengikuti bid’ah sebagai inovasi manusia, pasti akan beroleh lebih dari 50 teman”.

Mu’adz melanjutkan cerita, sontak para sahabat bertanya, “Apakah setelah generasi kami ada orang yang lebih utama dibanding kami?” Nabi menjawab, “Ada”. “Apakah mereka melihatmu?”, tanya para sahabat lagi. Nabi menjelaskan, “Tidak”.

Para sahabat bertanya kembali, “Apakah wahyu diturunkan kepada mereka?” Nabi menjawab, “Tidak”. Mereka lagi-lagi bertanya, “Bagaimana keadaan mereka?” Nabi menegaskan, “Laksana garam di dalam air. Hati mereka meleleh sebagaimana garam meleleh di dalam air”.

Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana mereka bertahan hidup pada zaman itu?” Nabi menggambarkan, “Seperti cacing di dalam cuka”. Terakhir, sahabat bertanya, “Bagaimana mereka menjaga agama mereka?” Nabi menandaskan, “Seperti menggenggam bara dengan kedua tangan. Apabila bara itu diletakkan, maka bara itu akan padam. Namun apabila bara itu digenggam, maka akan membakar”.

Tentu yang dimaksud dengan bara adalah agama yang sangat sulit dijaga pada masa itu. Apabila agama tak kuasa dipegang teguh, dapat dipastikan agama akan punah. Memelihara agama pada masa itu seperti menggenggam bara”.

Sementara yang dimaksud hati mereka meleleh seperti garam yang meleleh di dalam air adalah bahwa keadaan batin mereka porak-poranda menghadapi kezaliman. Mereka tak kuasa beramar makruf dan bernahi munkar saking hebatnya pertentangan masa itu. Oleh karena itu wajar saja kalau digambarkan oleh Nabi keadaan kehidupan mereka seperti cacing yang hidup di dalam cuka. Tentu sangat perih.

Tapi mengapa mereka dikatakan sebagai umat yang lebih utama dibanding umat pada masa Nabi? Karena mereka beriman kepada Nabi kendati tidak pernah bertemu dan melihat Nabi.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here