Mahasiswa UI Ngaku Khilaf Setelah Membunuh Adik Kelasnya, Motifnya Karena Iri & Terlilit Pinjol

252
Polisi saat menggelandang mahasiswa UI yang membunuh adik kelasnya.

Margonda | jurnaldepok.id
Pembunuh mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berinisial AAB sempat akan melakukan aksi bunuh diri usai menghabisi nyawa MNS yang merupakan adik kelas di kampus beralmamater kuning.

Wakasat Reskrim Polres Metro Depok, AKP Nirwan Pohan dalam gelar perkara di Polres Metro Depok mengatakan, tidak ada motif lain karena korban ini lebih sukses dan mungkin (pelaku) berpikir bahwa isi ATM korban ini bisa melunasi hutang pelaku.

“Pelaku AAB juga aktif dalam mengikuti investasi online kripto. Namun, sejak Januari tahun ini, pelaku kerap kali mengalami kerugian. Pengakuan korban ini juga pernah berhasil, tapi per Januari ini gagal mulu,” ujar Nirwan.

Kerugian itu, kata dia, juga membuat pelaku banyak meminjam uang, salah satunya melalui pinjaman online.

“Pelaku lalu gelap mata dalam melunasi hutangnya hingga tega membunuh juniornya di kampus. Setelah membunuh MNZ, sejumlah barang korban pun direncanakan dijual oleh pelaku. Total Rp 80 juta (rugi kripto), pelaku ini bermain kripto,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, niat pelaku untuk menjual barang-barang korban urung dilakukan. Pelaku mengaku selalu didatangi korban lewat mimpi.

“Barang-barang ini niatnya ingin dijual. Namun belum sempat dijual karena pelaku ini sejak kejadian itu, apabila dia tertidur, dia mimpi langsung korban datang ingin membunuh dia,” jelasnya.

Pelaku AAB, kata dia, mengaku tidak berniat lagi menjual barang-barang milik adik tingkatnya tersebut. Dia menyebut selalu dikejar bayangan korban di dalam mimpi.

“Dia tidak ada lagi kepikiran untuk jual karena dia dikejar terus bayangan korban,” katanya.

Selain itu, Nirwan menyebut AAB ketakutan setelah membunuh korban dan kerap didatangi oleh korban lewat mimpi. Ia mengatakan pelaku sempat berniat bunuh diri.

“Pelaku sempat berpikiran mau bunuh diri karena menyesal karena dia dikejar bayangan korban. AAB kini dijerat Pasal 340 dan/atau Pasal 338 dan/atau Pasal 365 KUHP terancam hukuman mati,” tukasnya.

Sementara itu pelaku mengaku melakukan aksi pembunuhan karena terlilit hutang sebesar Rp 15 juta.

“Saya khilaf, utang saya cuma Rp 15 juta, total kerugian Rp 80 juta. Termasuk hutang ke korban Rp 200 ribu, tapi itu sudah saya bayar,” ucap pelaku.

Dikatakannya, dia sudah minta bantuan orang tua, namun dirinya tak ingin terus menerus menyusahkan keluarga.

“Saya sudah minta orang tua. Orang tua bantu, cuma saya mau berusaha sendiri. Saya tidak enak,” tuturnya.

Namun pada akhirnya pelaku mengaku putus asa, kemudian terinsipirasilah dipikirannya untuk merampas barang-barang berharga mahasiswa Universitas Indonesia tersebut.

“Saya sudah putus asa, saya tidak ada jalan terang untuk menyelesaikan masalah sendiri. Saya sudah coba terakhir ini, merugikaan banyak orang,” pungkasnya. n Aji Hendro

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here