Khutbah Jumat: Agar Tidak Sesat, Miskin dan Hina

146
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Pengasuh Ponpes
Darul Akhyar Depok

Dalam Nashaihul Ibad diungkap tiga lontaran ulama ahli hikmah. Pertama, barangsiapa berpegang teguh pada akalnya, niscaya dia sesat. Menurut Syaikh Nawawi, orang yang bersandar pada akalnya dalam segala urusannya tanpa bersandar kepada Allah dalam urusan tersebut dapat dipastikan dia tidak diberi petunjuk yang benar.

Jadi kita harus bersandar pada dalil. Akidah, syariah, dan akhlak harus dibangun dengan dalil. Agama bukan akal. Ali bin Abi Thalib mewanti-wanti, “Seandainya agama dibangun dengan akal, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah mengusap bagian atas khufnya (sepatunya)” (HR. Abu Daud).

Namun, dalil dan akal tidak bisa dipertentangkan. Akal selalu sesuai dengan dalil. Atau dalil tidak pernah bertentangan dengan akal. Apabila akal saja yang dipakai, maka tidak bisa jadi dalil. Akal adalah kesimpulan akhir dalam memahami al-Qur’an dan sunah Nabi.

Kedua, barangsiapa merasa kaya dengan hartanya, niscaya dia miskin. Artinya, bagi Syaikh Nawawi, orang yang merasa cukup karena memiliki harta, perlu diketahui hal itu keliru. Karena harta tidak akan membuat cukup. Sebaliknya, harta mewariskan perasaan kurang atau miskin.

Nabi memberi petunjuk, seperti dikutip Syaikh Nawawi, “Barangsiapa merasa kaya dengan karunia Allah, maka Allah akan membuatnya kaya”. Ada beberapa redaksi yang mirip dengan hadits ini, misalnya hadits Imam Bukhari dan hadits Imam Muslim. Dalam hadits ini, tentu karunia Allah bukan hanya harta secara material. Karena kecukupan seseorang tidak dapat diukur dengan materi.

Merasa cukup bisa dilakukan dengan bersyukur. Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim/14: 7).

Ketiga, barangsiapa merasa mulia di hadapan makhluk, niscaya dia hina. Artinya, menurut Syaikh Nawawi, orang yang merasa kuat dengan dukungan manusia, maka dia akan terhina. Sebab manusia itu lemah. Yang kuat dan mulia adalah Allah. Allah pertegas, ” Tuhanmu Dialah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. Hud/11: 66).

Menurut pengarang Tafsir Jalalain yang dimaksud Maha Kuat lagi Maha Perkasa adalah Maha Menang.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here