Khutbah Jumat: Kegembiraan Abdul Muthalib

156
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Pengasuh Ponpes
Darul Akhyar Kota Depok

Syaikh Nawawi dalam Fathush Shamad dan Madarijush Shu’ud menuliskan tentang kegembiraan Abdul Muthalib saat cucunya, yakni Nabi Muhammad lahir.

Yazid bin Abdullah bin Wahab meriwayatkan yang bersumber dari bibinya bahwa Aminah, ibunda Nabi, pada saat melahirkan mengutus seseorang untuk memberi informasi kepada Abdul Muthalib soal persalinannya.

Utusan itu mendapati Abdul Muthalib sedang duduk di Hijr Ismail di samping Ka’bah. Menurut Syaikh Nawawi, ada yang berpendapat bahwa saat itu Abdul Muthalib sedang melaksanakan thawaf. Abdul Muthalib diberi tahu bahwa Aminah sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Sontak Abdul Muthalib kegirangan dan segera mendatangi Aminah di rumahnya dengan sumringah.

Pada saat itulah Aminah menceritakan kepada Abdul Muthalib mengenai apa yang dialaminya. Syaikh Nawawi mencatat bahwa Aminah melihat para malaikat dalam wujud laki-laki berdiri di udara. Mereka memegang kendi dari perak. Saat itu Allah membuka tabir penghalang yang menutupi mata Aminah.

Dalam Madarijush Shu’ud Syaikh Nawawi menceritakan saking gembiranya Abdul Muthalib memotong domba dan memanggangnya. Dia tak hanya membagi-bagikan daging tersebut kepada penduduk Mekah, tapi juga kepada binatang. Kegembiraan Abdul Muthalib akan kelahiran cucunya jadi buah bibir saat itu.

Menurut Syaikh Nawawi, Abdul Muthalib yang menamai Nabi dengan Muhammad. Nama tersebut dilatarbelakangi keinginan Abdul Muthalib agar cucunya memiliki kemuliaan yang tinggi yang tidak pernah dicapai oleh siapapun baik yang hidup sebelumnya maupun sesudahnya.

Syaikh Khudri Bek dalam Khulashah Nurul Yaqin menuturkan bahwa Abdul Muthalib sangat mencintai Nabi melebihi anak-anaknya sendiri. Sayang kebersamaan Abdul Muthalib dengan Nabi hanya berlangsung dua tahun saja. Pada saat Nabi berusia delapan tahun Abdul Muthalib wafat. Tepatnya di Mekah pada 578 Masehi.

Setelah itu Nabi diasuh oleh pamannya, yakni Abu Thalib. Sejarah mencatat begitu besar pembelaan Abu Thalib terhadap Nabi. Kebersamaan mereka berlangsung lama, yakni sekitar empat puluh tahun. Namun begitu Abu Thalib belum sempat memeluk Islam. Hal itulah yang membuat Nabi bersedih.

Kesedihan Nabi itu Allah jawab dengan firman-Nya, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya” (QS. al-Qashash/28: 56). Pengarang Tafsir Jalalain mempertegas bahwa ayat ini terkait dengan keimanan Abu Thalib yang diinginkan Nabi.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here