Sering Dibuka dan Dicopot, Segel Pita TPS Liar Dinilai Tak Optimal

69
Petugas Satpol PP saat memasang segel di TPS Liar

Limo | jurnaldepok.id
Komandan Tim Bantuan Kendali Operasi (BKO) Satpol PP Kecamatan Limo, Tuhanto mengakui bahwa penggunaan segel pita ternyata tidak maksimal dalam menghentikan aktivitas buang sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) liar didekat lapangan sepak bola pemuda Limo, Rt 02/05, Kelurahan Limo.

“Ya kami akui kalau segel pita seperti ini bisa di copot dan dipasang lagi, jadi sebenarnya kurang epektif tapi kami hanya melaksanakan sesuai yang telah di tetapkan oleh atasan, dan untuk segel TPS Liar Limo memang dari sananya segel pita,” ungkap Tuhanto.

Untuk menuntaskan penindakan aksi pembuangan sampah dilokasi itu, Anto sapaan akrab Tuhanto mengatakan akan mengintensifkan koordinasi dengan pihak terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), serta aparatur wilayah setempat sehingga penindakan lebih epektif. Penggunaan segel jenis pita pada lokasi tempat pembuangan sampah dikampung Lebong Limo juga disesalkan oleh Ketua Forum Muda Mudi Limo Bangkit (FMMLB), Lukman Hakim.

“Waktu penyegelan tahun 20214 jenis segel yang digunakan adalah plat besi dan itupun masih disingkirkan sama orang orang yang berkepentingan, apalagi kalau segel pita kayak gini sangat gampang dibuka pasang artinya kalau dia mau masuk buka dulu pita nya dan setelah selesai membuang sampah pita nya dipasang lagi, jadi kayak enggak di utak atik tuh segel,” papar Lukman Hakim.

Dikatakan Lukman, selama akses masuk lokasi pembuangan sampah tidak ditutup dengan portal, maka jangan harap aksi buang sampah di lokasi itu akan berhenti.

“Akses masuknya harus di portal jadi yan bisa masuk hanya kendaraan roda dua saja sementara kendaraan roda empat tidak boleh masuk,” ujarnya.

Pernyataan senada disampaikan oleh Naumar Hadi salah satu tokoh masyarakat setempat.

“Sebenarnya dulu kawasan ini sudah pernah di tutup dan disegel sama Satpol PP tapi sekarang muncul lagi aktifitas pembuangan sampah yang begitu dahsyat sehingga mencemari lingkungan disekitarnya, kami berharap dinas terkait dapat lebih serius menindak aksi buang sampah di TPS Ilegal yang jelas jelas sangat merugikan warga,” imbuhnya.

Naumar menambahkan, ada dua faktor pemicu terjadinya aktivitas pembuangan sampah dilokasi itu, yakni pertama ada pihak yang mengelola dan memfasilitasi kegiatan pembuangan sampah dan ada pihak lain yang mengolah sampah yang dibuang agar memiliki nilai ekonomi.

“Semua berkaitan, ada yang yang buang ada yang menerima sampah, ada juga yang memilah, makanya omzet kegiatan disana lumayan besar. n Asti Ediawan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here