Khutbah Jumat: Peristiwa Besar Menjelang Kalahiran Nabi

78
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Saat Nabi dilahirkan banyak peristiwa spektakuler yang membuat bergetar kaum beriman dan membuat gentar kaum kafir, baik yang ada di Timur (Romawi) maupun yang ada di Barat (Persia). Tak terkecuali makhluk seperti jin dan setan, mereka bahkan ketakutan. Peristiwa seperti ini diceritakan oleh Syaikh Nawawi dalam Fathush Shamad.

Pertama, Nabi terlahir dalam keadaan bersujud. Kondisi ini, tulis Syaikh Nawawi, untuk menunjukkan kedekatan Nabi dengan Allah. Sementara Nabi sendiri bersabda, “Posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah pada saat dia bersujud” (HR. Muslim).

Kedua, sesudah itu, Nabi menunjuk dengan dua jari telunjuk beliau ke langit secara bersamaan. Menurut Syaikh Nawawi, perilaku ini sebagai pengakuan Nabi kepada Allah bahwa beliau adalah hamba-Nya melalui lisanul hal (bahasa perbuatan) yang lebih hebat ketimbang lisanul maqal (bahasa ucapan), seperti ketika Nabi Isa lahir.

Lisanul maqal Nabi Isa diabadikan al-Qur’an, “Isa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi” (QS. Maryam/19: 30).

Ketiga, Nabi terlahir dalam keadaan bersipat mata, berminyak rambut, dan berminyak wangi. Diceritakan oleh Syaikh Nawawi bahwa orang yang mengunjungi Nabi lalu pulang ke rumah, ikut pula bersama orang itu aroma wewangian semerbak yang berasal dari Nabi. Saat itu seorang istri bertanya kepada suaminya yang baru mengunjungi Nabi, “Apakah kamu memakai minyak wangi?”

Keempat, Nabi terlahir dalam keadaan terkhitan dan terpotong tali pusatnya. Untuk hal ini Syaikh Nawawi mengutip sabda Nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata, “Rasulullah dilahirkan dalam keadaan terkhitan dan terpotong tali pusatnya”. Tujuan dikhitan dan dipotong tali pusat itu adalah untuk memuliakan dan mengagungkan Nabi serta untuk membersihkan Nabi dari kotoran.

Kelima, menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, Aminah melihat sekilas cahaya yang menerangi istana Romawi. Sementara istana Persia retak dan Api Majusi yang sudah disembah 1000 tahun dan tidak pernah padam, tiba-tiba padam. Bahkan salib-salib Nasrani pecah.

Keenam, menurut Syaikh Nawawi, iblis menjerit histeris. Kontan hal itu membuat setan bertanya, “Bencana apa yang menimpamu?”. Lalu iblis menjelaskan bahwa telah lahir seorang nabi terakhir yang bernama Muhammad yang akan menimbulkan kehancuran bagi bangsa iblis dengan kehancuran yang belum pernah terjadi selama ini.

Berdasar penjelasan singkat ini, pantas kalau kelahiran Nabi diperingati dan setiap tahun dinanti. Pantas juga kalau orang berbondong-bondong datang berulang kali setiap kali diselenggarakan maulid di masjid-masjid, kantor, dan juga istana negara.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here