Harga Gas Elpiji 3Kg Naik Lagi, Kini Sudah Tembus Rp 23 Ribu di Pengecer

112
ilustrasi-okezone

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya berdampak terhadap melonjaknya harga sejumlah komoditas pangan namun juga merambah pada kenaikan sejumlah harga barang kebutuhan sehari hari lainnya seperti Gas Elpiji yang belakangan diketahui mengalami kenaikan 15 persen dari harga semula.

Meningkatnya harga gas Elpiji ukuran 3 Kg dari harga awal Rp 20 ribu menjadi Rp 23 ribu tak pelak menambah keluh kesah para ibu rumah tangga lantaran sebelumnya telah terjadi kenaikan harga bahan pokok rumah tangga akibat terdampak kenaikan harga BBM.

“Belum lama Gas 3 kilo gram naik dari Rp 16 ribu menjadi Rp 20 ribu, eh…. sekarang naik lagi menjadi Rp 23 ribu, terus terang sekarang saya bingung mengatur uang belanja karena semua harga barang dan jasa melonjak,” keluh Kainah salah satu ibu rumah tangga diwilayah Parung Bingung, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB), Kecamatan Pancoran Mas.

Kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan sehari hari tak hanya dikeluhkan oleh para ibu rumah tangga, namun para pedagang sembako juga mengaku sangat terdampak dengan melonjaknya hampir seluruh barang kebutuhan pokok.

“Buat kami pedagang, kenaikan harga kebutuhan pokok sangat berpengaruh terhadap penurunan omzet penjualan karena saya beli masyarakat menjadi turun, oleh sebab itu kami sangat berharap tidak ada lagi kenaikan harga barang karena sekarang saja saya beli masyarakat sudah sangat rendah,” ujar Abdul Haris pemilik warung kelontong di Jalan RD. Sukarma RT 03/03, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB), Kecamatan Pancoran Mas.

Hal senada dilontarkan oleh Edi Jamali pemilik warung sayur mayur di Kampung Parung Bingung.

Dikatakan Edi, melonjaknya harga rempah dan sayur mayur sangat berdampak terhadap menurunnya omzet penjualan di warung sayur mayur miliknya.

“Sekarang saya enggak berani belanja banyak banyak karena selain memang modalnya cekak, para ibu rumah tangga yang belanja juga mengurangi jumlah belanjaan nya, yang biasa beli cabe setengah kilo sekarang hanya beli seperempat kilo atau dua ons saja, begitu juga dengan jenis komoditas lain semua omzet penjualannya menurun,” tutur Edi. n Asti Ediawan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here