Marwah DPRD Depok Rontok, Rintis Yanto: Drajat Lembaga Berada di Titik Terendah

251
H Rintis Yanto

Cilodong | jurnaldepok.id
Setelah aksi viral joget-joget Anggota DPRD Depok beberapa minggu lalu mencuat ke permukaan publik karena dianggap tidak peka dengan kenaikan harga BBM, akhir pekan kemarin aksi tak terpuji dari salah seorang Pimpinan DPRD Depok, H Tajudin Tabri juga viral di media sosial.

Aksi pria yang akrab disapa HTJ itu viral setelah dirinya diduga melakukan penganiayaan kepada salah seorang sopir truk, Ahmad Misbah yang saat itu nekat menerobos portal di Jalan Raya Krukut, Kecamatan Limo.

Menanggapi sikap arogansi Pimpinan DPRD Depok itu, Ketua DPRD Depok periode 2009-2014, H Rintis Yanto sangat menyayangkan peristiwa tersebut terjadi.

“Kejadian ini seharusnya menjadi pembelajaran yang berharga bagi semua pihak, tidak hanya DPRD sebagai lembaga terhormat. Tapi yang lebih penting bagaimana parpol menentukan pola rekruitmen dan mendidik kadernya melahirkan calon pemimpin terutama pada sisi moral dan etika sosial yang baik,” ujar Rintis kepada Jurnal Depok, Minggu (25/09).

Dikatakannya, hampir semua parpol di Depok jelang pemilu saja sibuk cari calon pemimpin tanpa filter yang jelas tanpa melihat bagaimana basis ideologinya, moralitasnya dan etika sosialanya.

“Bahkan banyak yang sama sekali tidak faham tentang fungsi dan kedudukan dewan sebagai ‘pelayan’ rakyatnya. Parpol sibuk jaring kader dengan basis ketokohan sosial yang diukur dengan materi. Pola rekruitmen yang instan seperti itu pasti rentan melahirkan pemimpin yang arogan bahkan cenderung koruptif nantinya,” paparnya.

Mantan Ketua DPC Partai Demokrat Kota Depok itu pun menilai, pilihan sulit yang disodorkan parpol saat pileg kepada masyarakat pemilihnya akhirnya membuat masyarakat tidak punya banyak alternatif bagaimana memilih calon pemimpin yang berkarakter dan berbasis moral yang baik.

Lebih lanjut ia mengatakan, DPRD sebagai lembaga seharsnya marwahnya dijaga. Ia juga menyoroti peran Badan Kehormatan Dewan (BKD) yang selama ini kurang maksimal.

“BKD tidak perlu menunggu aduan warga, segerlah memanggil yang bersangkutan (HTJ, red) dan proses secara transparan, umumkan ke publik hasilnya. Terlepas pihak lain akan melakukan mediasi terhadap kasus ini, yang jelas ini sudah menurunkan derajat lembaga pada titik terendah sebagai representasi perwakilan warga Depok,” tegasnya.

Melihat dari peristiwa tersebut, Rintis menilai sudah jelas yang bersangkutan tidak paham ‘tugas’ kedewanan.

“Arogansi yang muncul adalah wujud pemimpin yang tidak berbasis moral yang baik. Sebagai mantan anggota dewan, saya malu dan hanya bisa mengelus dada. Semoga ke depan tidak terulang kembali kejadian ini,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Anggota DPRD Depok periode 2014-2019, Bernhard juga menyayangkan sikap arogansi yang dilakukan HTJ.

“Ini bukan cermin anggota dewan, tak sepatutnya anggota dewan bertindak seperti itu kepada masyarakat. Jika ada kesalahan atau ketidak sesuaian di masyarakat, hendaknya anggota dewan melakukan edukasi bukan malah mengkriminalisasi,” tandasnya.

Sebelumnya, aksi salah seorang Pimpinan DPRD Kota Depok, H Tajudin Tabri yang menghukum seorang sopir truk dengan cara push up dan guling-guling lantaran menabrak portal di Jalan Raya Krukut, Kecamatan Limo, viral di media sosial.

Atas kejadian itu, politisi Golkar tersebut pun telah menyampaikan permohonan maaf nya. Ia mengaku saat itu sedang terbawa emosi.

“Saya ingin mengklarifikasi kejadian tadi karena memang viral ya, saya secara pribadi terutama kejadian itu karena di luar batas kemampuan atau kontrol saya,” katanya, Jumat (23/09). n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here