Khutbah Jumat: Menjauhi Larangan

29
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua MUI Kota Depok

Di dalam al-Qur’an larangan Allah agar tidak mendekat yang paling monumental adalah, “Dan Kami berfirman, “Hai Adam, diamilah kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim” (QS. al-Baqarah/2: 35).

Dalam ayat ini yang dimaksud dengan istrimu, menurut pengarang Tafsir Jalalain, adalah Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri. Sementara yang dimaksud agar tidak mendekati pohon adalah tidak memakan buahnya. Pohon yang dimaksud adalah pohon anggur atau batang gandum. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan buah yang dilarang itu, selain gandum dan anggur adalah tin.

Pohon lain yang dilarang untuk didekati adalah pohon yang buahnya biasa dimakan malaikat. Ini pendapat Wahab al-Munabih yang dikutip Ibnu Katsir. Pohon tersebut dapat membuat malaikat kekal. Ternyata inilah alasan larangan Allah kepada Adam dan Hawa untuk tidak mendekati pohon tersebut.

Namun sejarah menginformasikan bahwa Adam dan Hawa memakan buah itu sehingga keduanya termasuk orang-orang zalim atau durhaka. Fragmen kejatuhan Adam dan Hawa dari surga dilukiskan al-Qur’an, “Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu. Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (QS. al-Baqarah/2: 36).

Menyadari kesalahannya, kemudian Adam bertobat selama empat puluh tahun. Inilah doa tobat Nabi Adam yang sangat terkenal itu, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi” (QS. al-A’raf/7: 23).

Yang kedua larangan Allah untuk tidak mendekat yang juga monumental adalah larangan mendekati zina. Allah menegaskan, “Dan janganlah kamu mendekati zina. (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS. al-Isra/17: 32). Pengarang Tafsir Jalalain memberi komentar ayat ini bahwa mendekat saja dilarang, apalagi melakukannya jelas lebih keras lagi larangannya.

Menurut Syaikh Nawawi dalam Tafsir Munir, zina disebut sebagai perbuatan keji karena jelas keburukannya. Maksudnya mengandung kerusakan terhadap keturunan dan mengakibatkan saling membunuh. Sedangkan zina disebut jalan yang buruk, lanjut Syaikh Nawawi, karena dengan zina tidak ada bedanya antara manusia dan hewan.

Terkait dengan menjauhi larangan ini, Nabi berpesan, “Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisih nabi-nabi mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Terakhir, ada penghargaan yang diberikan Allah bagi siapa saja yang menjauhi larangan, misalnya Allah berfirman, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS. An-Nisaa: 31).*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here