Vonis 19 Tahun Penjara Terhadap Oknum Guru Ngaji Yang Berbuat Cabul, Dinilai Kurang Berat

42
Suasana persidangan terhadap oknum guru ngaji yang berbuat cabul di Kejaksaan Depok

Beji | jurnaldepok.id
Warga di Beji menilai vonis terhadap MMS, oknum guru ngaji yang telah melakukan asusila terhadap 10 santri kurang berat.

“Ya masa vonisnya hanya 19 tahun, kan korbannya ada 10,” ujar salah satu warga Beji, Purnomo, kemarin.

Dia mengatakan, semestinya terdakwa dihukum lebih dari 19 tahun atau hukuman seumur hidup sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya. Karena kejahatan yang dilakukan terdakwa menyisahkan rasa trauma kepada 10 anak-anak yang menjadi korbannya.

“Tidak hanya menyisahkan rasa trauma akan tetapi juga mempengaruhi psikologi korban yang masih menatap masa depannya. Kami berharap kedepan tidak ada lagi kejahatan seksual di Kota Depok,” paparnya.

Sebelumnya MMS, seorang oknum guru ngaji di Kota Depok divonis 19 tahun karena perbuatannya melakukan asusila terhadap muridnya. Sidang oknum guru berinisial MMS (69) yang mencabuli 10 santrinya digelar, Rabu (3/8) di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Depok.

Dalam Pembacaan vonisnya Hakim, Ahmad Syafiq menyatakan, terdakwa MMS (69) terbukti secara sah dan menyakinkan telah melakukan tindakan pencabulan terhadap 10 anak dibawah umur yang merupakan murid terdakwa.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa 19 tahun penjara,” kata Syafiq dalam persidangan.

Selain itu, Hakim juga mengabulkan permohonan restitusi terhadap korban yang diajukan Tim Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Depok.

Kepala Kejaksaan Negeri Depok, Mia Banulita yang turun langsung menjadii penuntut umum beranggotakan Jaksa, Alfa Dera dan Putri Dwi Rismarini menyatakan, menerima putusan vonis hakim tersebut .

“Atas vonis 19 tahun terhadap MMS (69) kami Tim Penuntut Umum menerima putusan tersebut, putusan yang dibacakan oleh Hakim tersebut pertimbangannya dan analisa yuridisnya sama dengan yang kami bacakan pada surat tuntutan,” jelasnya.

Mia menambahkan, Hakim juga mengabulkan permintaan restitusi yang diajukan penuntut umum.

“Karena restutusi ini kami mohonkan dalam tuntutan bertujuan agar korban yang khususnya anak-anak mendapatkan hak-hak atas kerugian pidana yang dialaminya. Karena dalam penangana perkara ini kami penuntut umum tidak hanya lebih fokus terhadap pelaku tetapi juga memperhatikan korban,”katanya.

Kepala Seksi Intelijen, Andi Rio R Rahmatu saat dikomfirmasi menyampaikan, penanganan perkara MMS menjadi perhatian penegak hukum di Depok karena ulah perbuatan terdakwa sangat meresahkan masyarakan dan tidak mencontohkan hal yang baik serta mencoreng profesi guru ngaji.

“Hal ini dapat dilihat bersama Kepala Kejaksaan Negeri Depok dan Ketua Pengadilan turun langsung menangani perkara ini,” ungkapnya.

Rio mengatakan, Tim Jaksa yang ditunjuk juga dalam persidangan maksimal membuktikan sebuah dakwaannya.

Bahkan, kata dia, di persidangan Jaksa sampai menghadirkan tiga ahli dari Rumah Sakit Bhayangkara.

“Jaksa Penuntut Umum juga sampai membongkar jejak digital milik ponsel terdakwa. Di persidangan terdahulu mengungkap adanya jejak digital penelusuran berapa video artis di tengah malam yang sering diakses terdakwa di waktu tengah malam,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here