Khutbah Jumat: Khalifah

61
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua MUI Kota Depok

Dalam Tafsir Jalalain diungkapkan bahwa khalifah adalah Adam. Tugasnya sebagai wakil Allah dalam melaksanakan hukum dan peraturan di bumi. Demikian salah satu intisari tafsir surah al-Baqarah/2 ayat 30, “Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.

Ternyata khalifah bukan hanya tertuju secara personal, tapi juga institusional. Ibnu Katsir, misalnya، dalam tafsirnya menyebut khalifah sebagai suatu kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain terus-menerus silih berganti, abad demi abad, dari generasi ke generasi. Argumen ini didasarkan firman Allah, misalnya, “Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi” (QS. al-An’am/6:165). Begitu juga ayat,
“Dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai Penguasa-penguasa di bumi” (QS. al-Naml/27: 62).

Dua ayat ini memaknai khalifah sebagai para penguasa yang bukan hanya berfungsi menjaga agama dengan melaksanakan hukum dan peraturan Allah di bumi, tapi juga mengatur urusan dunia demi kesejahteraan manusia. Tak jarang ahli tafsir lain, seperti al-Qurtubi, memahami khalifah sebagai institusi pemerintahan.

Namun kehendak Allah ini diprotes oleh malaikat, “Kenapa Engkau hendak jadikan di bumi itu orang-orang yang akan berbuat kerusakan?” (QS. al-Baqarah/2: 30). Inilah alasan pertama itu, yakni manusia tidak pantas jadi khalifah karena suka berbuat kerusakan atau durhaka.

Alasan kedua, malaikat memerotes pengangkatan Adam karena secara umum manusia seringkali, “Menumpahkan darah” (QS. al-Baqarah/2: 30), baik dengan berkonflik, bertikai, dan saling membunuh.

Sampai di sini sebenarnya malaikat tengah mengirim pesan bahwa kekurangan manusia sebagai khalifah itu ada dua, yakni durhaka dan suka menumpahkan darah. Saat ini bila dicermati memang itulah yang terjadi. Di belahan bumi manapun ditemukan perebutan untuk menjadi “khalifah”. Alasannya khalifah adalah kekuasaan, sementara kekuasaan sangat dekat pundi-pundi uang.

Di samping itu, ternyata malaikat juga mengincar posisi khalifah di bumi. Seperti berkampanye mereka berseru, “Padahal kami selalu bertasbih dengan memuji-Mu dan menyusikan-Mu” (QS. al-Baqarah/2: 30). Yang dimaksud dengan bertasbih menurut pengarang Tafsir Jalalain adalah mengucapkan tasbih seperti membaca “Subhanallahi wabihamdihi” atau Maha Suci Allah dan aku memuji-Nya.

Pertanyaannya, apa rahasia pengangkatan Adam sebagai khalifah di bumi hingga membuat iri malaikat? Dalam Tafsir Jalalain disebutkan sebenarnya manusia bukan khalifah pertama di bumi, Allah pernah menempatkan anak cucu jin untuk tinggal di bumi, tapi karena mereka berbuat kerusakan Allah mengutus malaikat untuk mengusir mereka dari sana. Apakah misi kedua ini untuk menggantikan misi pertama yang gagal? Mengapa juga Allah tidak memilih malaikat?

Yang pasti ini jawaban Allah terhadap sejumlah pertanyaan di atas, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui” (QS. al-Baqarah/2: 30).

Perlahan dan sambil terus berjalan kita paham mengapa Adam yang dipilih Tuhan. Maka tak perlu lagi dipertanyakan soal pengangkatan Adam, namun setelah setiap kita memanggul misi sebagai khalifah apa yang harus dilakukan agar kita bisa menjadi wakil Allah untuk melaksanakan hukum dan peraturan-Nya?*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here