Khutbah Jumat: Empat Tanda Riya

91
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua MUI Kota Depok

Dalam Tanbihul Ghafilin, Abu Laits mengutip perkataan Ali bin Abi Thalib tentang empat tanda riya.

Pertama, malas kalau sendirian. Sebabnya karena yang dilakukan tidak dilihat orang. Allah berfirman. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS. al-Nisa/4: 142). Dalam konteks ini orang riya seperti orang munafik.

Kedua, rajin kalau berada di tengah-tengah manusia. Sebab yang dilakukannya ditonton orang. Bukan hanya itu, orang model ini selalu membawa media dan awaknya, sejak masih media lama hingga media baru kini. Media konvergensi memuat ibadahnya, karyanya, dana filantropi yang disalurkan, termasuk kehidupan pribadinya dan rumahnya, mobilnya, hewan peliharaannya.

Padahal perbuatan seperti inilah yang nabi sebut paling mengkhawatirkan beliau. “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik ashgar”. Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgar, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “(Syirik ashgar adalah) riya. Allah berkata pada mereka yang berbuat riya pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka, “Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?” (HR. Ahmad).

Bahkan disebut dalam hadits yang bersumber dari Abu Said al-Khudri bahwa riya itu lebih samar dari Dajjal, seperti sabda Nabi. “Maukah aku kabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah al-Masih al-Dajjal?” Kami menjawab, “Mau”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (syirik yang samar) di mana seseorang shalat lalu ia memperbagus shalatnya agar dilihat orang.” (HR. Ibnu Majah).

Ketiga, kalau dipuja kian bertambah rajinnya, semangatnya, dan produktivitasnya. Padahal di antara yang memuja itu rakyat jelata, orang susah, bodoh, tak jarang orang yang tak shalat. Baginya ketimbang pahala dan ridha Allah lebih penting pujian, tak penting dari orang macam apa pujian tersebut. Dari sini tampak orang riya itu bodoh. Amalnya hanya ditukar dengan pujia orang.

Hajinya, misalnya, hanya ditukar dengan gelar haji yang disematkan di depan namanya, agar status sosialnya jadi tinggi. Mirip gelar bangsawan atau gelar sarjana. Padahal haji itu mahal, lama antrenya, dan capek. Gelar apapun tak cukup untuk ibadah haji, selain ridha Allah yang membuat orang dimasukkan ke surga.

Untuk itu Allah mewanti-wanti, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Hud/11: 15-16).

Terakhir, tanda riya berikutnya selain malas saat sendiri, rajin ketika berada di tengah-tengah manusia, dan bertambah energinya ketika dipuja adalah berkurang gairah kerja dan karyanya ketika dihina. Semangatnya kendor. Baginya pujian adalah energi. Celaan orang merusak konsentrasinya. Padahal Nabi berpesan, “Sesungguhnya Allâh tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untuk-Nya dan untuk mencari ridha-Nya” (HR. Nasa’i).

Cukup melelahkan menjalani hidup dengan riya, karena selalu berharap respons dan apresiasi manusia.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here