Tingkatkan Kualitas Mahasiswa, Polimedia Terapkan Pembelajaran Sistem PBL

27
Suasana diskusi dengan tema ‘PBL: Growth Mindset Towards Advancing and Sharping Idea for Future Vocational Education’ di Aula Polimedia

Margonda | jurnaldepok.id
Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) menerapkan metode pembelajaran Project Based Learning (PBL). Metode belajar ini bertujuan meningkatkan kualitas mahasiswa sehingga dapat diserap dunia industri dengan cepat.

“PBL menjadi konsep penting yang harus diketahui dan aplikasikan secara menyeluruh agar dapat diaplikasikan kepada mahasiswa,” ujar Direktur Polimedia, Tipri Rose Kartika saat diskusi dengan tema ‘PBL: Growth Mindset Towards Advancing and Sharping Idea for Future Vocational Education’ di Aula Polimedia, kemarin.

Menurutnya, PBL menjadi konsep penting saat ini dan perlu dipahami secara menyeluruh oleh dosen dan laboran di Polimedia sehingga bisa diaplikasikan kepada mahasiswa.

“Konsep dan ide PBL merupakan pembelajaran berbasis konsep nyata. Pada tahun pertama mahasiswa mendapatkan materi, membangun literasi, berpikir kritis, literasi, numerasi, menggali passion, skill, dan visi,” paparnya.

Sedangkan di tahun kedua, lanjutnya, ialah pelaksanaan coaching, facilitating dan mentoring.

“Konsep tersebut merupakan integrasi pendidikan dan dunia kerja yang dilaksanakan melalui link and match 8+i,” ucapnya.

Di tempat yang sama Pakar Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto menambahkan, PBL dan TeFa menjadi pondasi membangun pola pikir kreatif dan inovatif. Selain itu juga mampu menghasilkan anak didik yang bisa bersaing di dunia kreatif dan menghasilkan produk yang bisa dibanggakan Indonesia.

“PBL dan TeFa ini merupakan konsep yang mampu membangun pola pikir kreatif inovatif bagi mahasiswa, serta menyiapkan mahasiswa untuk menghasilkan produk yang bisa kita banggakan bersama,” tandasnya.

Dirjen Pendidikan Vokasi Periode 2020-2022 ini mengatakan, pelaksanaan PBL harus didukung dengan keterbukaan pemikiran.

Artinya, kata dia, dosen bukan lagi sebagai sumber pengetahuan, melainkan menjadi mentor dan fasilitator bagi mahasiswanya.

“Sehingga tidak sulit jika ingin memunculkan inovasi yang memperhatikan hardskill, softskill, dan karakter. Dosen sudah harusnya berubah, sudah saatnya menjadi fasilitator bagi mahasiswanya, bukan hanya satu arah saja. Ini baik buat melahirkan inovasi bagi mahasiswa,” pungkasnya. n Aji Hendro

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here