Khutbah Jumat: Kurban Adalah Mendekat

32
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Kurban bukan dekat tapi mendekat. Karena itu kurban adalah ibadah opensif, bukan depensif. Kurban juga bukan offering (persembahan) atau penyembelihan biasa, tapi kurban adalah upaya taqarrub (mendekat), baik kepada Allah secara vertikal maupun kepada manusia secara horisontal. Penyembelihan hewan pada 10 sampai 13 Dzulhijjah karena riya (ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar) hanya jadi persembahan biasa dan lebih pas disebut pesta.

Hal ini terkuak manakala Allah meminta kita untuk berkurban, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (QS. al-Kautsar/108: 2). Secara jelas dapat dipahami bahwa kurban adalah ibadah seperti shalat yang harus dilaksanakan karena Allah semata. Lebih tegas Allah menuntun kita, “Katakanlah, “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam” (al-An’am/6: 162). Shalat pada ayat kedua surah al-Kautsar yang dilakukan sebelum kurban menurut pengarang Tafsir Jalalain adalah shalat Idul Adha.

Pertanyaannya adalah, mengapa kita yang mampu diminta untuk berkurban? Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir karena kita telah diberi nikmat yang banyak oleh Allah, baik yang ada di dalam diri, badan, maupun di luar keduanya. Soal ini dengan tegas Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak” (QS. al-Kautsar/108: 1). Kendati ayat ini secara khusus ditujukan kepada Nabi, namun berlaku umum buat kita juga.

Lalu apa yang Allah kehendaki setelah kita melaksanakan shalat dan berkurban? Tentu ada hadiah yang Allah ingin sematkan pada diri kita, misalnya gelar sebagai orang bertakwa. Allah deklarasikan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. al-Hajj/2: 37). Jadi jelas, kurban itu soal niat, maksudnya niat untuk mendekat kepada Allah dan niat untuk mendekat kepada manusia.

Allah tidak makan daging, daging kurban inilah yang mendekatkan satu sama lain, seperti titah Allah soal distribusi daging kurban, “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir” (QS. alHajj/22: 28). Inilah keterlibatan agama dalam membangun kohesi sosial dan ketahanan pangan.

Dalam ayat lain, distribusi daging kurban juga menyentuh mereka yang tidak meminta-minta, Allah tegaskan, “Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta” (QS. al-Hajj/22: 36).

Berdasar ayat-ayat di atas, tampak jelas kurban mendekatkan kita kepada Allah sehingga kita beroleh gelar takwa dari-Nya. Sementara di sisi lain, daging kurban mendekatkan kita kepada sesama manusia karena mereka merasakan nikmatnya makan daging kurban. Idul Kurban dengan demikian jadi momentum buat orang kaya untuk berkurban dan membuat kenyang sesama baik orang yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta. Inilah yang disebut “Teologi Kenyang Idul Kurban”. Berbeda dengan puasa yang memperkenalkan “Teologi Lapar” untuk bisa jadi orang bertakwa. Namun semua itu kuncinya adalah mendekat.

Yang kedua yang Allah kehendaki dari shalat dan kurban yang kita laksanakan adalah untuk menghantarkan kita jadi orang-orang sabar. Inilah salah satu fragmen dalam al-Qur’an, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar” (QS. al-Shaffat/37: 102).

Namun secara simbolik tatkala kita mendekat kepada Allah dan manusia dengan cara menyembelih hewan kurban, sejatinya berbarengan dengan itu pula kita semestinya menyembelih sifat-sifat buruk yang masih bergelanyut berat pada diri kita. Seperti merasa berkuasa, berjasa, kaya, terkenal, dermawan, dan lainnya. Sebab tidak mungkin bersatu orang sombong dengan orang yang berkurban. Kalau ada orang sombong yang berkurban itu hanya penyembelihan dan persembahan biasa, karena tidak didedikasikan untuk mendekat kepada Allah dan kepada sesama manusia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here