Polisi Ungkap Korban Pencabulan Bertambah Dua Orang, Yang Lapor Baru Satu

62
ilustrasi

Margonda | jurnaldepok.id
Korban pelecehan yang dilakukan AS (47), marbot masjid di Depok tak hanya satu. Penyidik menyebut korban ada tiga orang namun hanya satu orang yang melapor ke polisi.
“Korban tiga orang, tapi yang melapor satu. Ketiga korban adalah laki-laki. Usianya sekitar 13 tahunan,” ujar Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno.

Sementara itu, kata dia, yang melapor adalah NF (13). Belum diketahui kapan seluruh korban mengalami pelecehan karena dua korban lainnya masih belum mau bicara.

“Kami dalami ya, tapi mereka mengaku diperlakukan yang sama, tapi modus operandinya kami dalami lagi,” ucapnya.

Terungkapnya kasus ini bermula ketika NF menceritakan apa yang dilakukan AS kepada orang tuanya pada, Selasa (21/6) malam. Kemudian orang tua NF melapor dan AS pun segera diamankan.

“Kejadiannya berawal di hari Selasa 21 Juni malam jam 21.00 WIB.  Lalu orang tua korban
bersama dengan warga mengamankan seseorang yang diduga melakukan perbuatan cabul anak dibawah umur. Jadi diamanin kemudian dibawa ke Polres,” paparnya.

Polisi kemudian melakukan pemeriksaan terhadap AS. Setelah itu baru terungkap bahwa AS memang melakukan perbuatan pelecehan terhadap NF.

“Memang benar terjadi tindakan pencabulan terhadap anak dibawah umur. Terlapor merupakan marbot masjid yang juga imam di masjid tersebut. NF dikenal sebagai pribadi yang baik oleh warga dan Jemaah,” katanya.

Selain menjadi marbot dan imam, NF juga sering mengajarkan anak-anak tentang ilmu
agama. NF juga bisa melakukan ruqyah. NF kemudian menawarkan pada AS untuk ruqyah
dengan alasan AS ada masalah dan dibersihkan dengan ruqyah.

“Terlapor mengajak korban ke salah satu ruangan masjid yang biasanya digunakan untuk
beristirahat oleh terlapor. Kemudian terlapor membuka celana korban kemudian melakukan
tindakan pencabulan,” jelasnya.

Saat ini korban masih mengalami trauma. Korban sudah menjalani visum namun hasilnya belum keluar.

“Sementara karena korban trauma psikis, kalau visum fisiknya belum keluar. Tapi korban
mengalami trauma psikis dari hasil pemeriksaan psikologi,” ungkapnya.

Dikatakannya, korban akan mendapatkan pendampingan untuk trauma healing dan Polisi sudah berkordinasi dengan unit terkait untuk pendampingan korban.

“Ada (pendampingan), sudah kami hubungi untuk trauma healing. Kami hubungi dari  instansi yang bersangkutan untuk trauma healing,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here