Perlintasan Kereta Api Rawa Geni Dibuka Warga, PT KAI Sebut Itu Perbuatan Ilegal

354
Kerumunan warga saat melakukan pembukaan pintu perlintasan Rawa Geni

Cipayung | jurnaldepok.id
Warga membuka palang pintu perlintasa kereta api listrik di Jalan Rawa Geni, Kelurahan Ratujaya, Cipayung. Penjaga palang pintu, Susanto mengatakan, pelintasan itu baru beroperasi kembali.

“Kalau untuk ini dibukanya dari semalam, tapi diberlakukannya pada, Senin (20/6) jam dua siang,” ujarnya, Selasa (21/06).

Susanto mengaku, proses pembukaan pelintasan sebidang itu baru diketahui PT KAI Senin sore, sekitar pukul 15.30 WIB.

“Ini warga (yang buka pelintasannya), tapi PT KAI sudah mengetahui tadi sekitar pukul 15.30 WIB. Kami sudah kumpul disini dan dari pihak PT KAI,” paparnya.

Susanto mengungkapkan, warga sebelumnya telah melayangkan surat ke PT KAI, meminta agar pelintasan sebidang itu dibuka kembali. Tetapi, hasilnya nihil.

“Iya ada surat lagi yang sudah dilayangkan tujuannya ke PT KAI, dan sebelumnya dalam beberapa surat dilayangkan ke sana tapi tanggapannya nihil,”katanya.

Warsiah, warga asli Rawa Geni, mulai merasakan dampak dari penutupan pintu perlintasan oleh PT KAI hampir selama dua bulan mematikan usaha ekonomi warga.

“Dari rumah makan padang, pedagang martabak sampai warung kecil di sepanjang Jalan Rawa Geni banyak yang tutup. Hal ini dampak dari penutupan pintu perlintasan manual warga yang menjadi akses keluar menuju Jalan Raya Citayam,” tandasnya.

Ditambahkannya, penutupan pintu perlintasan rel ini tidak ada campur tangan pemerintah.

“Jadi ikut sedih sebagai warga, setidaknya sedikit demi sedikit dapat mematikan ekonomi warga yang sekarang ekonomi sedang sulit dapat mencekik warga jika memang ditutup permanen pintu perlintasan,” ungkapnya.

Sedangkan Warsiah berkeinginan agar dari dinas terkait atau pemerintah daerah dapat meninggikan jalan dari Citayam masuk ke Rawa Geni melalu perlintasan rel terlalu menurun menjadi kendala laju kendaraan menjadi terhambat.

“Bukan ditutup semestinya, yang jaga dari warga sekitar. Namun kendala hanya ada sedikit jalan yang mau ke Jalan Raya Citayam ada sedikit turunan curam membuat banyak kendaraan motor maupun mobil alami slip dan menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan,” katanya.

Hendi yang juga penjaga pintu perlintasan sebidang Rawa Geni, menuturkan, pembukaan palang pintu dilakukan oleh warga.

“Senin malamnya kendaraan sudah dapat melintas baik dari arah Dipo maupun Citayam sudah dapat dilalui perlintasan rel,” tandasnya.

Hendi selama 15 tahun menjadi penjaga pintu perlintasan Jalan Rawa Geni ini menyebutkan warga spontan membuka pintu perlintasan yang ditutup oleh PT KAI.

“Warga spontan membuka pintu perlintasan. Hal ini disebabkan karena masalah perut karena dampak dalam jangka panjang mematikan perekonomian warga dan akses jalan mutar juga jadi tambah jauh serta pembuangan jalan ke arah Dipo menjadi macet,” tuturnya.

Hendi sebagai warga Rawa Geni berharap, agar PT KAI dapat segera membuka pintu perlintasan rel dapat kembali normal lagi.

“Kasihan bagi warga yang mau mengantar sekolah setiap pagi yang hanya ditempuh 10 menit jika melewati perlintasan Rawa Geni, setelah ditutup harus muter sejauh 4 kilometer menjadi jarak tempuh waktu bertambah,” ucapnya.

Selain itu Hendi mengatakan, selama ditutup perlintasan rel, hanya mengandalkan pemberian uang dari penyebrang jalan yang ingin masuk ke Jalan Rawa Geni menyebrangi pintu perlintasan rel.

Kahumas PT KAI Daop 1 Jakarta, Eva Chairunisa yang datang ke lokasi mengatakan, terkait pembukaan pintu perlintasan liar Rawa Geni yang sebelumnya sudah ditutup secara resmi, kini kembali dibuka merupakan suatu tindakan yang ilegal.

“Terkait hal tersebut KAI melalui arahan dan kordinasi bersama DJKA akan menindaklanjut tindakan pembukaan kembali perlintasan liar yang sudah ditutup karena merupakan tindakan ilegal dan melanggar UU 23 tahun 2007 tentang perkeretaapian,” jelasnya.

Jika memang warga ingin menjadikan perlintasan ini menjadi resmi, kata dia, maka bisa mengusulkan perizinan ke pihak PT KAI.

Eva berharap masyarakat dapat memahami dan mengikuti aturan yang ada untuk keselamatan bersama.

“Kejadian kecelakaan tertemper mobil di perlintasan tersebut merupakan contoh nyata bahwa penutupan perlintasan dilakukan semata-mata untuk keselamtan bersama,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here