Target Tol Cijago-Desari Meleset, Ternyata Masih Ada 48 Bidang Tanah Bermasalah

87
Terlihat beberapa alat berat yang ditempatkan di lokasi pembangunan Tol Cijago-Desari

Beji | jurnaldepok.id
Proyek pembangunan Jalan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) Seksi 3 khususnya yang menghubungkan Cijago-Depok Antasari (Desari) dipastikan belum bisa tersambung pada bulan ini.

Pasalnya, hingga saat ini masih ditemukan beberapa persoalan dari mulai pembebasan lahan hingga tanah wakaf.

Direktur Operasi PT Translingkar Kita Jaya (TLKJ), Alfiandra mengungkapkan, hingga saat ini masih dilakukan pekerjaan konstruksi. Selain itu masih terdapat juga Musolah Al Barokah yang saat ini telah menemukan tanah pengganti (ruslah) namun masih bernegosiasi dengan pemilik tanah.

“Sehingga sampai saat ini kami belum bisa melakukan pekerjaan konstruksi timbunan tanah di lokasi musolah. Selain itu masih banyak bidang tanah yang belum selesai (dibebaskan,red) salah satunya tanah milik Pedy Pramono,” ujarnya, kemarin.

Namun begitu, kata dia, khusus penyelesaian tanah Pedy Pramono sudah ada kemajuan yang akan dikonsinyasi di pengadilan dikarenakan sudah ada surat dari ahli waris yang menyatakan keberatan harga sehingga dilakukan konsinyasi.

“Selain Musolah Al Barokah, ada juga Masjid Al Furqon. Saat ini kami masih negosiasi harga untuk tanah penggantinya, karena dengan adanya pembangunan jalan tol harga tanah cukup pesat naiknya sehingga uang ganti rugi yang telah disiapkan berdasarkan appraisal dari KJPP sudah tidak mencukupi lagi, tanah penggantinya pun cukup mahal,” paparnya.

Dengan begitu, sambungnya, pembangunan Jalan Tol Cijago-Desari khususnya dari Kukusan hingga bibir mulut Tol Desari (3A) terhambat.

“Target kami memang awalnya di akhir Juni sudah tersambung, namun melihat perkembangan dan kendalanya tidak mungkin terpenuhi. Sehingga kami akan menyelesaikannya secara keseluruhan seksi 3A dan Seksi 3B. Artinya tidak sampai Desari saja, melainkan langsung ke Limo sesuai kontrak kami dengan KSO, jadi target kami di Oktober sudah tersambung,” jelasnya.

Itupun, lanjutnya, dengan catatan konstruksi yang paling besar di Kali Pesanggrahan lebih kurang lima bulan.

Lebih lanjut Alfian mengatakan, saat ini masih ada juga 48 bidang tanah yang masih bermasalah. Dimana, salah satu yang bermasalah nanti adalah pintu gerbang Tol Limo dikarenakan tanah sisa yang harus dibayarkan.

“Tanah sisanya di atas 100 meter2, sehingga harus dilewati dengan aturan khusus. Selain itu ada pula revisi tanah terdampak (penlok) di gerbang Tol Limo, itu juga butuh waktu,” katanya.

Dikatakannya, proses pembangunan tol dipastikan akan menghadapi persoalan pembebasan lahan. Adapun penetapan lokasi untuk proyek tersebut merupakan trase yang paling minim resikonya dalam menggusur tanah warga.

“Kalau dinol kan resikonya tidak mungkin, ini masuk Kota Depok sudah pasti wilayahnya padat penduduk, ini pemilihan trase yang sudah sangat maksimal. Penetapan oleh Gubernur yang mengusulkan Dirjen Bina Marga,” terangnya.

Sebelumnya Alfian mengungkapkan, pembangunan proyek Jalan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago) Seksi 3 khususnya yang menghubungkan Cijago-Depok Antasari (Desari) akan rampung pada Juni 2022 mendatang.

Dengan begitu, masyarakat yang berada di wilayah barat Depok khususnya Sawangan-Bojongsari dapat menghemat waktu jika berniat berpergian ke Margonda melalui Tol Desari kemudian masuk ke Tol Cijago-Kukusan yang bisa tembus langsung ke Margonda.

“Juni sudah tersambung ke Tol Desari. Memang saat ini masih ada sebidang tanah yang cukup lebar dari Kukusan ke Krukut yang masih dalam proses pembebasan. Juni target tersambung, jadi masyarakat yang dari Sawangan-Bojongsari bisa langsung masuk ke tol,” ungkapnya beberapa waktu lalu. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here