Pengamat Universitas Indonesia Sebut Private Party Bukan Budaya Indonesia

50
Devie Rahmawati

Beji | jurnaldepok.id
Perilaku yang ditunjukkan oleh anak-anak muda yang menggelar private party bukan merupakan bagian dari budaya sosial Indonesia.

Pengamat Universitas Indonesia, Devie Rahmawati mengatakan, kondisi ini terjadi karena peran media yang sangat kuat dalam mempromosikan budaya lain.

“Sehingga membuat komunitas atau masyarakat lain yang menyaksikan budaya tertentu untuk kemudian melakukan fotocopy terhadap budaya tersebut,” ujarnya, kemarin.

Devie mengatakan, apa yang dilakukan oleh ratusan muda mudi itu tentu sangat bertentangan dengan budaya Indonesia.

“Menggunakan bikini, lalu meminum-minuman keras, itu jelas bukan budaya Indonesia, ini adalah bagian dari budaya luar yang kemudian diadaptasi dan difotocopy oleh anak-anak kita. Bukan hanya hari ini, tapi itu sudah terjadi lama sekali, semenjak hadirnya teknologi media,” jelasnya.

Ini kemudian, lanjutnya, lantas terjadi setelah mereka menyaksikan tayangan-tayangan yang memang mempromosikan budaya-budaya lain tersebut dan bertemu dengan lemahnya kontrol sosial dari institusi keluarga yang menyebabkan kemudian anak-anak ini tidak lagi memiliki arah kompas kehidupan.

Menurut Devie, dalam hal ini orang-orang dewasa dan orang tua tidak memberikan pendampingan untuk mengingatkan anak-anak tentang apa yang baik untuk difotokopy, diimitasi atau dimodifikasi dari derasnya informasi sekarang ini.

“Yang paling penting dari kasus ini adalah tantangannya yang sangat besar, yang harus dipersiapkan oleh kita semua,” katanya.

Devie berpendapat, apa yang terjadi di Depok ini hanyalah bagian dari pecahan-pecahan peristiwa yang harus diambil benang merahnya.

“Ini terkait dengan lemahnya institusi keluarga dalam memastikan anak-anak muda tumbuh dengan moralitas dan keajaiban yang sesuai dengan budaya dan sosial Indonesia,” tuturnya.

Disisi lain, ia menaruh apresiasi pada masyarakat yang cukup peka dengan fenomena tersebut, sehingga melaporkannya ke polisi untuk ditindaklanjuti.

“Kita perlu apresiasi juga keluarga yang sekarang tetap memelihara kerekatan sosialnya dengan melaporkan hal-hal yang memang tidak sesuai dengan kearifan budaya dan sosial bangsa ini,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here