Khutbah Jumat: Apakah Kita Masih Fitri?

43
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua MUI Depok

Menjaga fitri lebih sulit dari mendapatkannya. Kita tahu Idul Fitri tidak identik dengan lebaran. Lebaran dengan semua tradisinya pasti berlalu. Tetapi Idul Fitri dengan makna hakikinya sedianya terus menjadi cermin bagi perbuatan dan perilaku kita kendati Ramadhan hampir sebulan meninggalkan kita.

Motivasi lebaran dipacu untuk memuaskan apsek fisikal yang dangkal. Sedangkan kerinduan akan Idul Fitri dipicu karena manusia sadar akan eksistensinya: dari mana berasal, untuk apa diciptakan, dan akan ke mana kelak. Bila lebaran bersimbolkan pakaian dunia yang serba baru, maka Idul Fitri berbalutkan pakaian ukhrawi yang serba otentik.

Lebaran dinantikan oleh mereka yang menekankan aspek kemeriahan dan kemegahan palsu dan serba menipu. Idul Fitri dinantikan oleh mereka yang selalu melakukan perenungan dan peningkatan iman yang dibuktikan dengan kesepadanan antara porsi spiritual dan material serta antara saleh secara ritual dan sosial.

Tegasnya, bila selepas Ramadhan, kita belum juga sudi menengok dan berpihak kepada keadilan, kebenaran, kedamaian, persatuan, dan kemakmuran untuk semua berarti kita telah kehilangan fitri. Karena itu kita juga gagal menyingkap tabir kemanusiaan dan ketuhanan. Termasuk, kita tidak memiliki kepekaan terhadap seluruh eksistensi diri.

Untuk menjaga fitri, mari kita renungi firman Allah SWT, “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan baginya di dunia, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya satu bagian pun di akhirat” (QS. al-Syuura/42: 42).

Maksudnya, untuk menjaga fitri selepas Ramadhan ini kita harus memotivasi diri untuk terus-menerus meningkatkan intensitas hablumminallaah dan hablumminanaas. Puasa Ramadhan yang lalu seharusnya membuat kita memaknainya sebagai momentum keagamaan dan kemanusiaan dengan menyibak makna hakikinya.

Sekali lagi, Idul Fitri adalah hari di mana hati “merayakan” kembali kesuciannya. Fitrah manusia adalah suci-bersih. Kedatangan Idul Fitri yang didahului dengan “hari-hari pembakaran” dan “tapabrata” Ramadhan harus kita jaga. Allah SWT sendiri menetapkan bahwa manusia identik dengan fitri bila kita dapat terus menjaganya.

Allah SWT menegaskan, ”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptkan fitrah manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. al-Ruum/30: 30).

Kalimat terakhir dalam ayat di atas membuat kita khawatir. Apakah kita selama ini termasuk orang yang memahami kehendak Allah melalui bimbingan al-Qur’an dan al-Sunah? Ataukah kita beragama sesuai selera kita, sehingga secara tidak sadar sebenarnya kita hanya mengikuti “agama” yang kita ciptakan sendiri?

Setelah sebulan Ramadhan meninggalkan kita, mari kita bertanya: apakah kita masih fitri? Maka layaklah kalau dalam sebelas bulan ke depan kita gugat model keberagamaan kita yang menjadikan ibadah puasa sebagai budaya, pura-pura puasa dan puasa pura-pura. Insya Allah, kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya tahun depan.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here