Setelah Kasur Kini Giliran Pohon Pisang Yang Nyangkut, Akibatnya Mampang Banjir Lagi

195
Terlihat beberapa kendaraan menerobos banjir di Jalan Pramuka, Mampang, Depok

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Depok dan sekitarnya pada, Selasa (17/05) malam membuat debit air Kali Cabang Barat (KCB) meningkat drastis, akibatnya banyak material sampah yang hanyut dan menyumbat gorong-gorong di kolong jembatan dan memicu terjadinya banjir seputar Jalan Raya Pramuka, Mampang, Pancoran Mas.

Dini, salah satu warga RT 01/11 Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoran Mas, mengatakan, luapan air diatas bidang jalan di perapatan Mampang sudah terjadi sejak Selasa malam sekitar pukul 21.00 WIB dan baru surut pada Rabu pagi sekitar pukul 09.30WIB, setelah tim Satgas Banjir PUPR berhasil mengeluarkan material sampah berupa pohon pisang yang menyumbat gorong-gorong kolong jembatan Mampang depan Masjid Jami Istiqomah.

“Luapan air terjadi di belakang masjid tepatnya di Jalan Pramuka II wilayah RW 10, pada sekitar pukul 21.00WIB malam, kemudian luapan air merembet ke Jalan Raya Sawangan dan jalan menuju arah Grogol,” ujar Dini kepada Jurnal Depok, Rabu (18/05).

Hal senada dikatakan Yani, salah satu warga Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoran Mas.

Dikatakan Yani, banyaknya material sampah di kawah kali menjadi biang keladi penyebab banjir di seputar perapatan Mampang.

“Banjir kayak begini sudah sering sekali terjadi akibat dari banyaknya sampah di kali, tapi anehnya kenapa hal semacam ini tidak bisa diatasi oleh pemerintah, sehingga kasus banjir yang merendam bidang jalan terus terulang,” kata Yani.

Sementara Komandan Regu (Danru) Satgas Banjir Dinas PUPR Kota Depok, Iskandar memastikan penyebab utama luapan air di seputar perapatan Mampang disebabkan adanya sejumlah pohon pisang yang menyumbat lubang gorong-gorong dibawah jembatan Mampang.

“Kami menurunkan dua tim Satgas dengan jumlah personel sebanyak 20 orang, kami telah mengeluarkan beberapa pohon pisang yang menyumbat lubang gorong-gorong kolong jembatan yang menjadi pemicu terjadinya luapan air,” kata Iskandar.

Berulangnya banjir dikawasan perapatan Mampang menjadi sorotan sejumlah kalangan termasuk para pengguna jalan.

Anwar Sanusi, salah satu pengamat lingkungan, menguku sangat prihatin atas peristiwa banjir yang terus terulang di wilayah seputar perapatan Mampang.

“Dalam kurun dua tahun belakangan sudah tiga kali terjadi banjir di kawasan perapatan Mampang yang melumpuhkan aktivitas lalu lintas, penyebabnya sudah jelas sampah yang dibuang oleh masyarakat dibidang kali, ini merupakan rangkaian permasalahan yang ditimbulkan dari menjamurnya pedagang liar yang mengoptimalkan bahu kali, saya berharap pemerintah dapat menertibkan keberadaan ratusan pedagang liar yang berjualan di bantaran Kali Cabang Barat karena aktivitas perniagaan dipinggir kali itu sangat besar kontribusinya terhadap meningkatnya volume sampah di kawah kali,” papar Sanusi.

Selain soal eksistensi para pedagang liar dipinggir kali, Anwar juga menyoroti prihal minimnya kesadaran masyarakat yang kerap membuang sampah rumah tangga dibidang kali.

“Banyak masyarakat yang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sehingga sering membuang sampah di kali, sementara disisi lain pemerintah kurang tegas mengatasi para pembuang sampah di kawah kali, rentetan permasalahan ini yang menjadi pemicu terjadinya banjir di seputar perapatan Mampang,” jelasnya.

Peristiwa luapan air dibidang jalan raya diseputar perempatan Mampang tak hanya membuat empat jalur ruas jalan menjadi macet total, namun juga menimbulkan banyak kerugian warga dan para pengguna jalan, terutama para pengguna jalan yang kendaraannya rusak akibat terendam air saat nekat menerobos derasnya aliran air diatas bidang jalan di perapatan Mampang.

Pada banjir sebelumnya, tim Satgas PUPR menemukan sebuah kasur yang nyangkut di kolong jembatan. Kasur tersebut pun menyumbat aliran air dan menjadi biang keladi banjir Mampang. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here