Mutiara Ramadhan: Menuju Hari Idul Fitri, Meraih Kemenangan Hakiki

55
Hj Qonita Luthfiyah

Oleh: Hj Qonita Lutfiyah

Anggota: DPRD Kota Depok

Bulan suci Ramadhan kini mulai memasuki akhirnya, dan Idul Fitri siap menyambut. Walaupun sudah memasuki waktu-waktu akhir, tetapi bulan Ramadhan tidak boleh disia-siakan. Tamu agung dan mulia yaitu bulan Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Tamu terhormat itu datang dengan membawa segudang peluang dan kesempatan emas bagi kita. Dan meninggalkan banyak anugerah dan nikmat bagi yang menjamunya. Kenapa dikatakan demikian? tak lain karena di dalam bulan Ramadhan terkandung kemuliaan dan keistimewaan yang amat besar, yang tak bisa dijumpai pada bulan-bulan lainnya. Nilai ibadah dilipatgandakan, do’a-do’a dikabulkan, dosa diampuni, pintu surga dibuka, sementara pintu neraka ditutup.

Di penghujung bulan Ramadhan ini merupakan fase dimana ada momentum yang sangat mahal nilainya, yaitu malam lailatul qadar. Malam dimana nilai suatu ibadah yang bertepatan dengan lailatul qadar, ganjarannya lebih besar dari pada beribadah selama seribu bulan. Karena itu lah kemudian umat muslim seluruh dunia berlomba lomba mengisi malam-malam ganjil di akhir Ramadhan, guna mendapatkan lailatul qadar.

Malam lailatul qadar memang merupakan satu keistimewaan yang Allah SWT berikan kepada umat Nabi Muhammad SAW dibanding dengan umat-umat lainnya. Karena malam lailatul qadar adalah malam yang lebih mulia dari pada seribu bulan. Ibnu ‘Arobi, dalam kitab Ahkamul Qur’an, menerangkan bahwa umat Nabi Muhammad diberikan beberapa anugerah yang tidak dimiliki oleh umat lainnya. Seperti misalnya berpuasa di bulan Ramadhan akan dibalas sebesar puasa selama satu tahun. Kemudian membaca akhir surat al-Baqarah pahalanya seperti ibadah satu malam full. Juga anugerah yang tidak ada tandingannya, yaitu malam lailatul qadar yang lebih utama dari pada seribu bulan.

Secara pasti tentu kita tidak pernah mengetahui kapan malam lailatul qadar itu hadir. Tetapi banyak sekali penjelasan para ulama yang menerangkan akan tanda-tanda malam lailatul qadar. seperti yang dijelaskan oleh ulama hadits terkemuka dari Mazhab Syafi’I, yaitu Ibnu Hajar al-Asqalani. Menurut Ibnu Hajar, ada pendapat yang mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada tanggal ganjil dari 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Dan yang paling potensial adalah tanggal 21 dan 23 Ramadhan. Sebagaimana pendapat Imam Syafi’i. Sementara menurut mayoritas ulama adalah malam tanggal 27 Ramadhan. (Lihat Fathul Bari, juz 5, hal. 569). Hal itu diperkuat dengan dalil-dalil yang mendasari argumen Ibnu Hajar tersebut.

Pendapat yang mengatakan malam lailatul qadar pada tanggal ganjil dari 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Seperti misalnya hadits yang diriwayatkan dari Aisyah.

وعن عائشة رضي الله عنها، قالت: كَانَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم – يُجَاوِرُ في العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ   رَمَضَانَ، ويقول: «تَحَرَّوا لَيْلَةَ القَدْرِ في العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضانَ». متفقٌ عَلَيْهِ.

Artinya, “Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Carilah lailatul qadar itu dalam malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

Karena dasar itulah Ibnu Hajar mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Tepatnya pada malam-malam tanggal ganjil.

Seharusnya Ramadhan adalah wadah bagi kaum muslimin untuk berlomba-lomba meraih kebaikan. Terlebih kaum muslimin seharusnya berlomba-lomba meraih kemuliaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Malam di mana pintu-pintu langit dibukakan, do’a dikabulkan, dan raihan kemenangan yang telah dijanjikan. Lailatul Qadar yang jatuh diakhir-akhir bulan Ramadhan, seraya menutup bulan yang mulia dengan hal yang luar biasa. Maka dari itu semua berlomba mendapatkannya dan semua berlomba menujua kemenangan.

Tetapi momentum-momentum di bulan Ramadhan yang terjadi pada tahun ini tidak seindah yang kita bayangkan. Kenapa demikian? Karena di belahan bumi yang lain, kita menyaksikan masih adanya peperangan dan penjajahan di atas dunia ini. Seperti misalnya yang terjadi di Rusia-Ukraina, atau baru-baru ini kembali Israel  melakukan tindak represif terhadap masyarakat muslim di Palestina.

Tak hanya itu, di dalam negeri saja misalnya. Masyarakat merasakan bagaimana harga-harga pokok naik, BBM naik, apa-apa serba mahal dan memberatkan masyarakat. Padahal amanat undang-undang itu harus melindungi segenap masyarakat Indonesia, bukan malah menyusahkan dan memberatkan. Fenomena ini pula yang menjadi potret yang tidak indah di bulan yang mulia ini. Di bulan yang seharusnya masyarakat dapat merasakan kenikmatan dan kesejahteraan, tetapi malah diberikan kesusahan dan kesengsaraan.

Kemenangan yang sangat diharapkan oleh semua umat muslim di dunia, bukan sekedar momentum Idul Fitri namun sampai pada kemenangan hakiki. Kemenangan yang hakiki adalah kemenangan yang dimana tidak ada lagi penjajahan di atas belahan dunia manapun. Apalagi penjajahan yang terjadi diatas negeri yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Dimana masyarakat harus diberikan kesejahteraan dan keadilan Kedudukan dan kehormatan harus terjaga. Nyawa dan diri terpelihara, hak-hak dasar hidup seluruh masyarakat terjamin. Serta aktifitas beragama harus dilindungi dan diberikan kemudahan beribadah dengan nyaman dan khusyu.|*

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here