Mutiara Ramadhan: Muhasabah Diri di Bulan Ramadhan

80
Yeti Wulandari

Oleh: Yeti Wulandari, SH
Wakil Ketua DPRD Depok

Selain berlimpah pahala, bulan Ramadhan juga merupakan bulan tercurahnya rahmat serta bulan penuh ampunan. Keistimewaan bulan Ramadhan ini bisa kita manfaatkan untuk meraih banyak pahala, berkah, dan ampunan dari Allah SWT.

Salah satunya yakni melakukan muhasabah diri. Muhasabah dilakukan dengan tujuan introspeksi diri dan memperbaiki diri menjadi seorang muslim yang lebih baik lagi.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya ( pada masa lalu) untuk (kepentingan) hari esok , dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (Al-Hashr 59:18)

Muhasabah ialah sebuah upaya untuk melakukan evaluasi diri terhadap setiap kebaikan dan keburukan beserta semua aspeknya. Evaluasi tersebut meliputi hubungan seorang hamba (manusia) dengan Allah, maupun hubungan sesama makhluk ciptaan Allah seperti dalam kehidupan sosial yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia, lalu secara umum dengan tumbuhan, hewan bahkan makhluk seperti air, udara dan benda-benda-benda mati.

Senantiasa bermuhasabah adalah satu sarana untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang mulia sebagai hamba Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT” (HR. Imam Turmudzi).

Penting sekali bagi kita utk melakukan muhasabah diri atau mengkoreksi diri. Yaitu dengan melihat, mengkaji atas amalan yang telah dilakukan, lalu mengoreksi kesalahannya dan menggantinya dengan amalan shalih.

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya, tentang masa mudanya, digunakan untuk apa, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu” ( HR. Tirmidzi).

Jadi, sebagai apa pun dan di masa apa pun seorang muslim wajib melakukan muhasabah. Muhasabah, yang berarti mengintropeksi akan diri sendiri, menghitung diri dengan amal-amal perbuatan yang pernah dilakukan di masa masa yang sudah lalu.

Manusia yang beruntung adalah manusia yang senantiasa memperbaiki diri dan selalu mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang kekal abadi kelak di akhirat. Sedang hakikat keberuntungan dan kesuksesan, ialah manusia yang selamat di yaumul akhir kelak.

Dengan senantiasa melaksanakan muhasabah, di setiap waktu setiap detik, seorang hamba tidak akan menyianyiakan waktu yang telah Allah berikan dalam kehidupannya, di sisa umurnya seoraang hamba akan dengan sebaik baiknya memanfaatkan waktunya untuk berbuat baik demi meraih keridhaan Allah SWT.

Juga di dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang yang senantiasa bermuhasabah akan senatiasa memperbaiki akhlak untuk bisa hidup sebagai manusia yang sebaik-baiknya dan sebagai makhluk yang dicintai oleh Khaliqnya, dengan demikian seseorangpun akan bisa hidup di dunia yang fana ini dengan tentram dan damai.

Wallahu a’lam bis sawab. |*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here