Jalan Rawageni Ditutup, Akses Penghubung Macet Total dan Semrawut

316
Terlihat penumpukkan kendaraan di Jalan Rawageni

Cipayung | jurnaldepok.id
Pasca ditutupnya perlintasan palang pintu rel kereta Jalan Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, mengakibatkan kawasan Dipo menjadi macet total.

Kardi, salah satu warga mengatakan, adanya penutupan palang pintu berdampak pada volume kendaraan di Dipo menjadi padat, bahkan menimbulkan kemacetan.

“Biasanya kalau belum ditutup (Rawageni,red) Dipo enggak macet seperti ini, sekarang macetnya parah. Bahkan untuk menghindari kemacetan motor pada masuk ke gang pemukiman warga,” ujarnya, kemarin.

Salah seorang tukang ojek pangkalan di samping rel, Irfannsyah, mengaku tak setuju dengan penutupan tersebut.

Ia menyebut jalan perlintasan sebidang itu merupakan jalur utama yang menghubungkan ke beberapa lokasi.

“Kalau saya minta dibuka. Soalnya ini jalan utama. Ini bisa ke Jembatan Serong, ke Cipayung, bisa ke Pitara dan bisa ke Sawangan,” katanya.

Hal serupa juga dikatakan Yanti yang menyebut perjalanan untuk sampai ke lokasi kerjanya jadi jauh lantaran harus memutar. Padahal, kata dia, akses jalan itu kerap dipakai orang berlalu lalang

“Ya istilahnya kita kalau ke pasar saja bisa langsung lewat sini (perlintasan KA). Kalau lewat tempat lain jalannya jauh lagi. Cuma jalan ini satu-satunya,” jelas Yanti.

Menurutnya, penutupan rel sebidang membuatnya harus mengeluarkan kocek lebih dalam saat menggunakan ojek online (ojol). Ia berharap perlintasan bisa dibuka kembali.

“Saya kerja di sini (Rawageni) tapi keluarga tinggal di Jakarta. Kalau pulang dari Jakarta naik (ojek online) nambah ongkosnya. Jauh memutar dan macet. Biasanya (keluarkan) Rp 30 ribu atau Rp 25 ribu, (sekarang) bisa Rp 40 ribu atau Rp 50 ribu. Berat juga, maunya dibuka lagi. Banyak warga sini yang sudah bikin pernyataan biar dibukakan,” ungkapnya.

Warga meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menghadirkan solusi. Salah satunya pembuatan flyover di lokasi tersebut.

“Pemerintah harus memikirkan akses warga sekitar, seperti bikinlah pembangunan fly over. Jadi fly over yang sebelah sana satu, di sini satu. Kalau enggak ada fly over, di jalan dalam Rawageni-Dipo sekarang terjadi kemacetan yang luar biasa,” tukasnya.

Sebelumnya, Warga Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, akan melayangkan surat keberatan ke PT KAI, wali kota hingga DPRD atas keberatan ditutupnya akses Jalan Rawageni secara permanen pasca terjadinya kecelakaan antara commuterline dengan satu unit mobil.

Perwakilan RW se Rawageni, Jaelani mengatakan, pihaknya telah mengkonsep surat keberatan itu yang akan dilayangkan dalam waktu dekat ini.

“Kami semua RW se Rawageni yang terdiri dari 12 RW merasa keberatan atas penutupan akses jalan tersebut. Karena bagaimana pun jalan itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka,” ujar Jaelani kepada Jurnal Depok, Kamis (21/04).

Diakuinya, volume kereta api beberapa tahun terakhir ini semakin padat dan semakin cepat pula jika melintas.

“Dari itu, tinggal disiasati saja dibuatkan pintu perlintasan secara otomatis. Jalan Rawageni ini sangat efektif untuk mengurai kemacetan dari berbagai arah, tapi ketika ditutup maka kemacetan semakin parah,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, Jalan Rawageni merupakan jalan alternatif warga, baik dari dan menuju wilayah barat, timur, selatan dan utara Kota Depok.

“Bahkan, kami rela berswadaya untuk melebarkan Jalan Rawageni ini. Jadi, kami minta PT KAI untuk membuka lagi akses jalan tersebut,” ungkapnya. n Aji Hendro

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here