Khutbah Jumat: Keistimewaan Al-Qur’an

34
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua MUI Kota Depok

Ada bermacam ragam keistimewaan al-Qur’an. Pertama, ibadah paling utama seperti shalat tidak sah apabila orang yang mendirikannya tidak membaca surah al-Fatihah. Nabi tegaskan, ‘”Shalat tidak sah bagi orang yang tidak membaca surah al-Fatihah” (HR. Bukhari). Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, hadits ini mempertegas membaca al-Fatihah dalam setiap rakaat sebagai salah satu rukun shalat. Al-Fatihah adalah surah pertama dari 114 surah yang terdapat dalam al-Qur’an.

Kedua, kendati al-Qur’an relatif tebal, namun Allah membuatnya mudah dihapal. Allah kemukakan hal ini, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Quran untuk pelajaran” (QS. al-Qamar/54: 17). Istimewanya, ayat serupa Allah ulangi tiga kali lagi dengan redaksi yang sama, yakni pada ayat 22, 32, dan 42 surah al-Qamar.

Bagi Ibnu Katsir dalam tafsirnya, al-Qur’an mudah dihafal ditinjau dari beberapa segi. Pertama, mudah bacaannya atau lafadznya untuk diucapkan. Kedua, mudah untuk dipahami pengertiannya. Kedua segi ini seperti firman Allah sendiri, “Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an itu dengan bahasamu” (QS. Maryam/19: 97). Yang dimaksud dengan “bahasamu” dalam ayat ini adalah bahasa manusia. Jadi bukan bahasa Arab saja. Nyatanya orang bukan Arab tak terhitung yang fasih, paham, dan hapal al-Qur’an.

Keterangan Ibnu Katsir tentaang ayat 17, 22, 32, dan 40 surah al-Qamar di atas hampir serupa dengan pengarang Tafsir Jalalain. Pertama, Allah telah memudahkan al-Qur’an untuk dihapal. Kedua, Allah telah mempersiapkannya untuk mudah diingat.

Kesimpulannya al-Qur’an itu mudah dibaca, mudah dihapal karena Allah telah mempersiapkannya untuk mudah diingat oleh orang dengan latarbelakang bahasa apapun, dan mudah dipahami pengertiannya. Terbukti dengan banyaknya kitab tafsir yang ditulis oleh orang bukan Arab seperti Persia, India, Inggris, dan Indonesia. Bahkan di Indonesia ada tafsir al-Qur’an dengan bahasa Jawa, Sunda, Melayu dan bahasa daerah lainnya.

Ketiga, keistimewaan al-Qur’an adalah sebagai obat atau penawar. Allah tandaskan, “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. al-Isra/17: 82).

Di dalam Nashaihul Ibad, Syaikh Nawawi menceritakan tentang seorang wanita tawanan yang lari dari negeri kafir. Ia berjalan sejauh kurang lebih seribu kilometer dalam keadaan tidak makan apapun. Lalu ada yang bertanya kepada wanita itu, “Bagaimana mungkin kamu kuat berjalan jauh tanpa makan?” Wanita itu menjawab, “Setiap kali aku merasa lapar, aku membaca surah al-Ikhlas tiga kali, lalu aku merasa kenyang”.

Keempat, al-Qur’an menceritakan kisah yang nyata dan dapat dibuktikan. Allah berfirman, “Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya” (QS. al-Kahfi/18: 13).

Misalnya, ketika Allah berfirman, “Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi” (QS. al-Rum/21: 2-4). Secara historis memang bangsa Romawi dikalahkan bangsa Persia. Saat itu Nabi berada pada blok Romawi, karena mereka dianggap ahli kitab. Sementara orang kafir berada pada blok Persia, bangsa penyembah api. Pada waktu itu Nabi dan para sahabat ditertawakan oleh orang kafir karena yang dijagokan kalah.

Namun tidak sampai di situ, Allah memberi kabar gembira kepada Nabi, “Mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi”. Sejarah membuktikan kekalahan Romawi atas Persia terjadi pada tahun 615 Masehi. Pada saat itu Allah berfirman bahwa Romawi akan menang “Dalam beberapa tahun lagi”. Terbukti tujuh tahun kemudian, yakni pada 622 Masehi, Persia bertekuk lutut di hadapan bangsa Romawi. Menurut pakar bahasa Arab, frasa “fi bidh’i sinin” atau “dalam beberaa tahun lagi” pada ayat di atas adalah rentang waktu antara satu hingga sepuluh tahun.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here