Mutiara Ramadhan: Menjaga Lisan, Selamat Dunia Akhirat

39
H Qurtifa Wijaya

Oleh: H. Qurtifa Wijaya, S.Ag
Anggota DPRD Depok

Diantara begitu banyak nikmat Allah SWT yang diberikan kepada manusia adalah nikmat lisan atau lidah. Dengan lisan manusia dapat berbicara, mengutarakan keinginan, mengungkapkan perasaan dan pikirannya serta berkomunikasi dengan satu dengan yang lainnya. Lisan adalah anggota tubuh yang memiliki kekuatan dan pengaruh, namun di sisi lain dia dapat menjadi titik lemah dan membinasakan.

Dengan lisannya seseorang mampu mengukir sejerah kebaikan bagi dirinya dan menebar manfaat bagi manusia lainnya. Dengan lisan pula sesorang mengukir sejarah kehancurannya dan menebar kerusakan di tengah-tengah masyarakatnya. Kalimat-kalimat yang keluar dari lisan sesorang akan menunjukkan sejauh mana kualitas kepribadian pemiliknya. Apa yang keluar dari lisannya merupakan petunjuk yang jelas bagaimana suasana hatinya dan kedalaman ilmunya.

Tidak diragukan lagi, bahwa lisan memiliki peran sentral dan strategis dalam kehidupan. Ia merupakan jalan menuju kebaikan, tapi ia juga jalan kejahatan. Siapa saja yang mendambakan kesuksesan hidup, di dunia maupun di akhirat haruslah menaruh perhatian yang besar terhadap lisannya. Ia harus tahu, kapan dia harus berbicara, dan kapan harus diam. Apa yang harus ia bicarakan dan apa yang semestinya ditinggalkan. Bagaimana ia memilih kata-kata untuk diucapkan dan bagaimana kata-kata itu dirangkai. Ia juga harus mengetahui, apa konsekuensi yang akan dihasilkan dari ucapannya, dan apakah yang ia katakan merupakan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan, atau merupakan buah pemikiran tanpa sandaran yang lahir dari dorongan hawa nafsu yang menyesatkan.

Rasulullah SAW pernah menyampaikan nasehat untuk menjaga lisan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang berasal dari riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pula Rasulullah SAW pernah menyampaikan nasehat tentang menjaga lisan dalam hadits lainnya yang berasal dari riwayat Mu’adz bin Jabal:

“Maukah kamu aku beritahu tentang kekuatan semua itu (kekuatan Islam)?” aku berkata: “Mau wahai Rasulullah.” Lantas beliau memegang lidahnya dan bersabda: “Tahanlah ini (lisan) atas kalian!” Aku berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kita ucapkan?” Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana kamu ini wahai Muadz, bukankah manusia akan jatuh tertelungkup di dalam neraka di atas wajahnya karena menuai hasil lisan mereka?”. (HR. Ahmad)

Sahabat Ibnu Mas’ud ra. berkata: “Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih berhak dijaga lebih lama dari lisan.”

Menjaga lidah berarti menjaga diri agak tidak terjerumus dalam kesalahan dan dosa. Para sahabat Rasulullah SAW dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah orang-orang yang terdidik dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka selalu mempertimbangkan kata-kata yang hendak diucapkan. Bicara mereka adalah dzikir, pandangan mereka adalah pelajaran, dan diam mereka adalah berpikir.

Setiap muslim harus merasakan bahwa apa-apa yang mereka ucapkan tidak ada satupun yang luput dari pengawasan Allah SWT. Tidak ada ucapan berupa kebaikan atau keburukan melainkan ada malaikat pencatat yang akan mencatatnya. Dan pada hari kiamat nanti semua catatan itu akan diperlihatkan kepada manusia dan kemudian ditetapkan hisab atas mereka. Allah SWT berfirman yang artinya:

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. 50:18)

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa diantara tanda kebaikan seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya meninggalkan perkataan yang tidak memberikan manfaat. Membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya merupakan bahaya lisan yang paling ringan. Dari sini kemudian lahir bahaya-bahaya berikutnya seperti dusta, bergunjing, mencela, berkata kotor, saksi palsu, melaknat, menghina, mengadu-domba, memfitnah, merendahkan orang lain, dan lain-lain.

Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk berlatih mejaga lisan, dengan cara menata hati dengan ibadah dan menata pikiran dengan ilmu dan pemahaman.|*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here