Tumpukan Puing Tak Dirapihkan, Proyek Drainase Pangkalan Jati Disoal

22
Terlihat tumpukan puing masih berada di pinggir jalan

Cinere | jurnaldepok.id
Sejumlah pengguna jalan yang biasa melintas di Jalan Pangkalan Jati 2, RW 02, Kelurahan Pangkalan Jati, Kecamatan Cinere mengeluhkan banyaknya puing sisa bongkaran bangunan yang menumpuk dibahu ruas jalan raya Pangkalan Jati 2.

Usut punya usut, tumpukan puing sisa bangunan diatas bahu jalan tersebut ternyata sengaja di taro oleh pihak pelaksana proyek saluran air (Drainase) dengan tujuan agar bidang saluran tidak terlindas roda kendaraan, namun kebijakan itu justru dikeluhkan oleh para pengendara lantaran keberadaan puing puing tersebut jelas mengganggu kelancaran lalu lintas dan dapat membuat luas bidang jalan menjadi relatif sempit akibat bahu jalan tidak dapat dioptimalkan untuk lajur kendaraan sepeda motor.

“Saya enggak tahu kenapa puing puing ini ditumpuk di bahu jalan, padahal sebelumnya bahu jalan ini bisa dipakai untuk lajur sepeda motor sehingga aktivitas lalu lintas lebih lancar, tapi setelah puing puing ini berserakan diatas bahu jalan, kami pengendara sepeda motor terpaksa menggunakan lajur yang biasa untuk kendaraan roda empat, ini yang menjadi pemicu arus kendaraan diruas jalan ini menjadi kurang lancar,” ujar Andi salah satu pengendara sepeda motor.

Keluhan senada dilontarkan oleh Saman salah satu pengemudi kendaraan truk.

“Waktu sebelum ada tumpukan puing, kendaraan truk masih bisa berpapasan dengan kendaraan roda empat, tapi setelah banyak puing, sekarang mobil mini bus saja nyaris tak bisa berpapasan di ruas jalan yang drainasenya baru dibangun,” kata Saman.

Saat dikonfirmasi Jurnal Depok, Ketua RW 02, Kelurahan Pangkalan Jati, Kecamatan Cinere, Suryadi membenarkan bahwa selama ini banyak keluhan para pengguna jalan dan pelaku usaha terkait keberadaan puing yang ditumpuk diatas Drainase.

“Banyak yang komplain termasuk orang yang punya butik karena puing puing itu menghalangi akses jalan menuju parkiran depan butik,” jelas Suryadi.

Meski banyak menerima keluhan dari para pelaku usaha dan pengguna jalan, namun Suryadi mengaku bingung hendak melaporkan hal ini kepada siapa pasalnya kata dia proyek saluran air (Drainase) sepanjang kurang lebih 150 meter ini merupakan proyek BKM tahun 2021 sementara Ketua BKM waktu itu sekarang sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua BKM, sementara Ketua BKM yang baru tidak tahu menahu soal proyek tersebut.

“Ya, itu proyek tahun 2021, waktu kami diberi tahu alasan soal puing yang bertebaran diatas bahu jalan itu, katanya untuk menjaga agar bidang saluran yang baru di cor tidak terlindas roda kendaraan tapi anehnya sampai sekarang puing puing tidak juga disingkirkan sehingga mengganggu kelancaran aktivitas berkendaraan,” katanya.

Pantauan Jurnal Depok dilokasi mendapatkan sejumlah titik saluran yang baru berusia 4 bulan sudah jebol, hal ini tentu mengundang pertanyaan masyarakat apakah pengerjaan proyek saluran air (Drainase) itu telah sesuai bestek atau tidak.

Saat dikonfirmasi prihal ini, Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kota Depok, Ahmad Gozali mengatakan akan berkoordinasi dengan pihak Fasilitator Kelurahan (Faskel) BKM Pangkalan Jati, Kecamatan Cinere. n Asti Ediawan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here