Mutiara Ramadhan: Puasa Dapat Mengendalikan Hawa Nafsu

58
Yeti Wulandari

Oleh: Yeti Wulandari, SH
Wakil Ketua DPRD Depok

Selain ibadah sholat, puasa menjadi ibadah yang wajib dilakukan oleh umat Islam, khususnya ketika bulan Ramadhan. Puasa berarti menahan makan, minum dan menahan nafsu mulai terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari.

Ibadah puasa adalah ibadah yang berbeda dari ibadah lainnya. Jika ibadah seperti sholat amalnya untuk diri sendiri, maka tidak dengan puasa. Karena amal ibadah dari puasa adalah untuk Allah SWT sehingga pahalanya bisa lebih besar dibanding amal ibadah lainnya.

Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat”.

Allah SWT juga berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR Bukhari Muslim).

Allah melengkapi penciptaan manusia dengan diberinya akal dan nafsu. Karenanya kita harus menggunakan akal kita utuk mengendalikan nafsu, dan jangan sampai nafsulah yang menguasai dan mengatur akal kita.

Jika akal mengendalikan seseorang secara penuh. Maka hawa nafsu akan tunduk patuh kepadanya. Demikian sebaliknya, kalau kekuasaan berada ditangan hawa nafsu, maka akal akan menjadi tawanan dan hamba baginya. Rasulullah memuji orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya sebagai petarung sejati,

“Petarung sejati bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan nafsunya saat marah” (HR Bukhari Muslim).

Tiada seorang hamba yang mendahulukan keinginannya diatas keinginan Allah, melainkan Allah cerai beraikan urusannya, dikaburkan dunianya dan disibukkan hatinya dengan urusan dunia.

Akal pikiran inlah yang selalu menilai segala risiko buruk sehingga ia terus mewaspadainya, yang berupaya menjalankan segala hal yang sesuai dengan kemaslahatan, yang menentang keinginan hawa nafsu sehingga mampu mengalahkan bala tentaranya dengan penuh kehinaan. Selain itu, akal pula yang membantu kesabaran hingga berhasil mengalahkan hawa nafsu, setelah sebelumnya ia nyaris terpukul dengan anak panah hawa nafsu.

Rasulullah SAW bersabda “Hentikan gangguanmu pada dirimu sendiri dan jangan mengikuti hawa nafsumu untuk bermaksiat kepada Allah. Karena, ia akan rnenghujatmu di kemudian hari nanti. Sampai-sampai yang satu mempersalahkan yang lain dan ingin berlepas tangan, kecuali jika Allah berkehendak mengampuni dan menutupi dengan rahmat-Nya”.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here