Mutiara Ramadhan: Ramadhan dan Doa

61
H Qurtifa Wijaya

Oleh: H. Qurtifa Wijaya, S.Ag
Anggota DPRD Depok

Doa adalah ibadah. Demikianlah Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadits shohih tentang keutamaan dan pentingnya doa. Doa secara bahasa merupakan bentuk masdar dari kata bahasa Arab: دعا-يدعو-دعوة yang artinya adalah memanggil, menyeru, mengajak, dan dari kata: دعا-يدعو-دعاء yang artinya: meminta, dan memohon.

Jadi secara bahasa doa mengandung makna tholabul fi’li, permintaan untuk melakukan sesuatu. Ibnu Asyur dalam kitab Tahrir wa Tanwir memaknai doa sebagai aktivitas memohon kepada Allah dengan penuh ketundukan dan sangat mengharap untuk dikabulkan atas permohonannya. Selain itu ia juga menjelaskan bahwa doa adalah sebuah permohonan dari yang statusnya rendah kepada yang statusnya lebih tinggi.

Dalam surat Al-Baqarah ayat: 186 yang merupakan rangkain dari ayat-ayat yang terkait ibadah di bulan Ramadhan, Allah SWT memberikan motivasi kepada hamba-hambaNya untuk memperbanyak berdoa, dengan menjelaskan bahwa Allah akan mengabulkan doa seorang hamba yang berdoa kepada-Nya.

Allah SWT berfirman yang artinya:“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’adi dalam tafsirnya terkait ayat ini mengatakan: Kedekatan dari Allah ada dua macam; kedekatan dengan ilmu-Nya dari setiap makhluk-Nya, dan kedekatan dari orang-orang yang beribadah kepada-Nya dan orang yang berdoa kepadanya dengan mengabulkan doa, menolong, dan memberi Taufik.

Barang siapa yang berdoa kepada Rabbnya dengan hati yang hadir dan doa yang disyariatkan, lalu tidak ada suatu hal yang menghalanginya dari terkabulnya doa, seperti makanan haram dan sebagainya, maka sesungguhnya Allah telah menjadikan baginya doa yang terkabul, khususnya bila dia mengerjakan sebab sebab terkabulnya doa, yaitu kepasrahan kepada Allah dengan ketaatan kepada perintah perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, baik dalam perkataan maupun perbuatan, beriman kepada-Nya yang mengharuskan timbulnya penerimaan tersebut.

Sesungguhnya dalam doa ada kekuatan, keyakinan dan optimisme dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Besarnya keutamaan serta pentingnya do’a diperkuat dengan adanya perintah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya untuk meminta dan berdoa kepada-Nya. Firman Allah SWT: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Fathir : 60)

Marwan Hadidi dalam kitab Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an menyatakan terkait ayat di atas, “Ini termasuk kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya dan nikmat-Nya yang besar, dimana Dia mengajak mereka kepada sesuatu yang di sana terdapat kebaikan bagi agama dan dunia mereka, serta memerintahkan mereka berdoa kepada-Nya dan menjanjikan akan mengabulkan doa mereka. Demikian pula mengancam orang-orang yang sombong dari berdoa kepada-Nya. Yakni tidak mau berdoa kepada-Ku. Mereka akan memperoleh azab dan kehinaan sebagai balasan terhadap kesombongan mereka.”

Saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT, mari kita manfaatkan waktu-waktu Ramadhan kita dengan memperbanyak munajat dan doa kepada Allah SWT. Berdoa agar Allah menerima seluruh amal ibadah Ramadhan kita dan mengampuni seluruh dosa dan khilaf kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin.|*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here