Riset Setara Institute Dinilai Bikin Gaduh, Wakil Wali Kota: Masyarakat jadi Resah

139
Imam Budi Hartono

Margonda | jurnaldepok.id
Anggota DPRD Depok, Khairulloh Ahyari mengungkapkan, hasil riset yang dilakukan oleh Setara Institute yang menyebutkan Kota Depok sebagai kota paling intoleran malah membuat gaduh kondisi di masyarakat.

“Hasil riset tersebut juga melukai elemen masyarakat Kota Depok serta kerja keras TNI/Polri, ulama, pendeta dan pemuka agama lainnya yang selama ini menjaga harmoni di tengah-tengah masyarakat,” ujar Khairulloh kepada Jurnal Depok, kemarin.

Menyinggung Perda Penyelenggaraan Kota Religius, Khairulloh menyebut bahwa itu sudah disepakati di DPRD meskipun belum turun dari Biro Hukum Provinsi.

“Belum dijadikan lembaran negara sehingga itu belum bisa disebut sebagai Perda, baru rancangan yang sudah disepakati di tingkat DPRD. Jika digali dalam perda itu kan bicara enam agama, rumah ibadah enam agama, tokoh enam agama, pendidikan enam agama. Begitu juga insentif untuk enam pembimbing rohani enam agama, seluruhnya mengacu pada aturan-aturan di atasnya,” katanya yang juga menjabat Sekum MUI Depok.

Sementara itu Wakil Wali Kota Depok, Imam Budi Hartono memprotes hasil riset Setara Institute yang menempatkan Kota Depok sebagai kota paling intoleran. Ia menyebut penilaian yang dilakukan lembaga itu justru hanya bikin masyarakat Depok resah.

“Apalagi kalau hasil itu dipergunakan untuk mengadu domba ya, membuat gelisah bagi masyarakat Kota Depok. Ada yang bilang ‘aduh saya nyesal tinggal di Depok’ kan jadi lucu,” tandasnya.

Imam menambahkan, lembaga survei manapun berhak melakukan penilaian terhadap Pemerintah Kota Depok. Akan tetapi, penelitian tersebut harus dilakukan dengan data yang valid.

“Jangan sampai indikator yang dibuat oleh lembaga yang memang bukan dibuat pemerintah dan malah masyarakat menjadi resah, bahkan saling kecurigaan terhadap satu sama lain,” katanya.

Menurut Imam, penelitian yang dilakukan Setara Institute hanya berdasarkan data yang diperoleh secara sepihak.

“Mereka (Setara Institute,red) menggunakan data sekunder sepertinya tidak data primer. Saya katakan, lembaga manapun boleh membuat survei, tetapi hasilnya itu semua orang bisa buat,” ungkapnya.

Imam pun mengeklaim selama ini Pemkot Depok tak memiliki masalah intoleran. Kalaupun ada persoalan, akan diselesaikan dengan musyawarah oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

“Selama sejak saya menjabat Wakil Wali Kota, enggak ada persoalan-persoalan terkait intoleran yang sampai ke kami, saya rasa indeks (dari Setara Institute) tersebut tidak pas. Karena kalau yang pas yaitu dari indeks kerukunan beragama dari Kementerian Agama,” jelasnya.

Imam mengaku lebih mempercayai indeks Kerukunan Umat Beragama yang dirilis Kementerian Agama. Namun, sayangnya indeks itu tidak mengukur kerukunan umat beragama di tingkat kabupaten/kota, melainkan hanya tingkat provinsi.

“Pemerintah sudah mengeluarkan indikator kerukunan umat beragama dan Depok bagian dari Jawa Barat wilayahnya cukup tinggi 72,7 persen, artinya cukup baik,” terangnya.

Sebelumnya, dikutip dari kompas.com, Kota Depok di Jawa Barat menempati urutan paling bawah dalam indeks kota toleran hasil riset Setara Institute tahun 2021. Riset tersebut mengukur skor toleransi terhadap 94 kota di seluruh Indonesia (empat kota administrasi di Jakarta dijadikan satu) menggunakan delapan indikator.

Kota Depok memperoleh skor 3,577, di bawah Pariaman (Sumatera Barat), Cilegon (Banten), dan Banda Aceh. Depok turun dua peringkat dibandingkan pemeringkatan tahun sebelumnya.

Direktur Eksekutif Setara Institute, Ismail Hasani menyebut bahwa Depok menorehkan skor rendah pada dua indikator yang bobotnya tinggi.

Produk-produk hukum di Depok dianggap diskriminatif dan tindakan wali kota nya dinilai tidak mempromosikan toleransi.

“Kalau teman-teman masuk ke Depok, bagaimana dalam 20 tahun berjalan, Depok mengalami satu proses penyeragaman yang serius atas nama agama dan moralitas,” kata Ismail kepada wartawan, Rabu (30/3/2022). n Aji Hendro | Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here