Mutiara Ramadhan: Puasa, Rasa Syukur dan Kepedulian

42
H Qurtifa Wijaya

Oleh: H Qurtifa Wijaya, S.Ag
Anggota DPRD Kota Depok

Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah SWT kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan, bulan penuh keberkahan dan ampunan. Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi kaum muslimin untuk setidaknya melakukan dua hal, pertama meningkatkan amal ibadah dan kebaikan, kedua memperbanyak istighfar dan taubat memohon ampunan.

Selama bulan Ramadhan Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah puasa di siang hari, dan menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamul lail. Semua perintah tersebut memiliki satu tujuan dan harapan, yaitu agar ummat Islam dapat membentuk dirinya menjadi hamba-hamba yang bertakwa kepada Allah SWT sebagaimana harapan tersebut disebutkan di penghujung surat Al-Baqarah ayat 183 dan juga di ayat 187.

Salah satu bentuk ketaqwaan itu adalah hadirnya dalam diri seorang hamba rasa syukur yang tinggi kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya. Hal ini secara jelas disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 185:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. 2: 185)

Allah SWT menguji manusia di dunia ini dengan dua jenis ujian, yaitu ujian berupa kesenangan dan ujian berupa kesulitan dan kesusahan. Allah SWT menguji manusia dengan kesenangan, untuk melihat apakah ia menjadi hamba yang pandai bersyukur dan menyadari bahwa kenikmatan yang diterimanya merupakan rizki dari Allah SWT, dan Allah SWT juga menguji manusia dengan kesulitan, untuk mengetahui apakah ia dapat menghadapi kesulitan itu dengan sabar dan tetap menyandarkan harapannya kepada Allah SWT.

Ibadah puasa sesungguhnya adalah ibadah yang menggabungkan dua ujian tersebut sekaligus, yaitu ujian untuk kita bersabar dan sekaligus bersyukur. Dengan puasa, kaum muslimin diajarkan untuk bisa bersabar menahan lapar dan haus serta menahan hal-hal yang dilarang lainnya, merasakan apa yang dirasakan oleh yang saudara-saudaranya yang dalam kesehariannya mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangannya.

Dengan ibadah puasa kaum muslimin juga diingatkan untuk bersyukur bahwa makan dan minum serta kehidupan yang selama ini dinikmati merupakan nikmat yang besar dari Allah SWT yang sering dilupakan.

Dari dua keadaan di atas, Allah SWT sesungguhnya ingin menghadirkan sebuah kesadaran kepada kaum muslimin bahwa di tengah-tengah kemudahan kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka untuk bisa makan dan minum serta beraktivitas dengan lancar, banyak saudara-saudara mereka lainnya yang hidup di dalam kesulitan dan kekurangan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Sehingga diharapkan dengan ibadah puasa yang dijalani, di samping hadirnya rasa syukur, juga diharapkan bisa menghadirkan kepedulian, empati dan keinginan untuk berbagi, membantu dan menolong sesama.

Dengan demikian, ibadah puasa bukan sekedar aktivitas menahan lapar dan haus saja, tetapi lebih jauh lagi ibadah puasa itu dapat menghadirkan rasa syukur yang tinggi kepada Allah SWT yang diwujudkan dalam bentuk meningkatnya semangat dalam beribadah dan juga bertambahnya kepedulian di dalam membantu dan menolong sesama. Wallahu A’lam.|*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here