Demi Pasang Behel Gigi, Perempuan Ini Nekad jadi Badut

162
Inilah lima badut yang terjaring razia Satpol PP

Margonda | jurnaldepok.id
Sekitar lima badut yang mengamen di jalanan di Kota Depok terjaring razia Tim Garuda Satpol PP, salah satu badut mengaku sebagai siswi SMP di Kota Depok.

Dantim Garuda Satpol PP Kota Depok, Bondan mengatakan, razia tersebut dilakukan atas dasar keluhan masyarakat akan adanya pengamen badut di jalan yang meresahkan.

“Ada keluhan masyarakat dan atensi pimpinan, kami lakukan patroli dan menemukan badut pengamen untuk dibawa ke Mako Pol PP di Balaikota,” ujarnya, kemarin.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Depok, Nita Ita Hernita menambahkan, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Depok memberikan edukasi kepada tujuh orang Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang menjadi badut di Pancoran Mas.

“Mereka diberi edukasi dan peringatan tegas supaya tak mengulangi. Kami pakai perjanjian, saat mereka mengulangi, mereka akan saya kirim ke Panti Negara. Enggak langsung ujug-ujug Panti Sosial tapi kami beri surat peringatan pertama,” tegasnya.

Menurut Nita, dari penertiban yang dilakukan Satpol PP Kota Depok, ada dua perempuan yang diberi wejangan. Satu di antaranya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

“Dua perempuan yang satu sudah nikah, satu belum. Suaminya kami panggil jangan sampai istrinya keluyuran di jalan. Kan harusnya yang bertanggung jawab suami yang menafkahi,” katanya.

Sedangkan murid SMP, kata Nita, menjadi badut lantaran ingin memenuhi gaya hidup di lingkungan sosial. Ia pun memberikan pembinaan agar pola pikir dari anak tersebut bisa diubah.

“Dia ingin memakai behel, jadi kan gaya hidup yang menjadikan dia manusia badut. Kami kasih edukasi jangan lihat ke kanan-kiri tapi perbaiki hidup kamu. Kalau kamu sukses kamu bisa beli ratusan behel bukan hanya satu,” paparnya.

Sementara itu, kata dia, lima PPKS lainnya seorang laki-laki yang sudah putus sekolah. Dinas Sosial menyarankan untuk mengambil Paket C mengejar ketertinggalan.

“Sebanyak lima lainnya laki-laki, dewasa, tapi mereka putus sekolah. Ada yang SMP, SMA, dan hanya lulusan SD. Mereka ingin sekolah sebenarnya tapi terbentur biaya, makannya ngebadut untuk makan sehari-hari,” ungkapnya.

Pihak Dinsos Kota Depok juga memanggil orang tua dari PPKS tersebut. Orang tua diminta tak mengeksploitasi anak. Sebagian dari mereka juga mengaku diarahkan oleh bos yang kemudian dipanggil oleh Dinsos.

“Jadi kami panggil (orang tua), ternyata gaya hidup mereka keren-keren, orang tuanya rapi. Orang tua juga harus tanggung jawab, jangan eksploitasi anak. Juga yang ada bosnya, kami panggil kemarin, kalau sudah melanggar peraturan daerah (perda) soal ketertiban umum,”katanya.

Mereka diizinkan untuk pulang dan menulis perjanjian di atas kertas agar tak mengulangi lagi perbuatan serupa.

“Jika terbukti untuk kedua kalinya, baru akan dilakukan penindakan ke Panti Sosial,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here