Ridwan Kamil Apresiasi Pebalap Nasional Era 70an, Beri Tiket Nonton Gratis MotoGP Mandalika

92
Tjeptjep Heriyana saat menerima tiket nonton gratis MotoGP Mandalika dari Gubernur Jawa Barat

Bandung | jurnaldepok.id
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil memberikan tiket gratis nonton langsung MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, kepada pebalap kebanggaan Indonesia asal Jawa Barat di era 1970an, Tjeptjep Heriyana.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu menuturkan, tiket tersebut sebagai bentuk apresiasi kepada Tjetjep yang pada 1970-an sudah mengharumkan nama Indonesia di ajang balap motor.

“Pak Tjetjep ini orang yang punya minat kuat dibidang otomotif. Prestasi beliau diakui dunia. Jadi, ini bentuk apresiasi dari Pemda Provinsi Jabar untuk beliau yang sudah sangat berjasa membawa nama negara,” ujar Emil, kemarin.

Hadiah tiket MotoGP Mandalika ini, terasa makin spesial bagi Tjetjep. Sebab pada 26 Maret nanti, warga Cimahi itu memasuki usia 83. Emil berharap Tjetjep berbahagia dengan apresiasi tiket nonton langsung balap motor kelas dunia.

Tjetjep menuju Lombok bersama anak dan cucu, Kamis (17/3). Sebelum berangkat dilakukan pemeriksaan kesehatan.

Dokter Ayi Abdul Basith menerangkan kondisi kesehatan Tjetjep baik.

“Dari nadi dan saturasi oksigen normal. Kondisi tubuh, bagian paru dan perut, semua dalam kondisi batas normal dan sudah tidak ada keluhan,” jelasnya.

Tjetjep merasa bahagia dan antusias menyaksikan ajang ‘kuda besi’ di Mandalika secara langsung. Ia mengucapkan terima kasih kepada Emil.

“Terima kasih banyak Pak Gubernur. Saya enggak bisa ungkapkan apa-apa. Pokoknya saya senang sekali. Karena selama ini hanya bisa melihat MotoGP di TV,” ucapnya.

Jawara Grand Prix Macau

Kecintaan Tjetjep kepada balap motor muncul sejak usia 13 tahun. Secara otodidak ia belajar banyak hal. Di antaranya sempat ke Jerman dan Italia, guna menimba ilmu tentang mesin motor.

Tjetjep meraih banyak trofi selama berkarir sebagai pebalap motor. Berapa jumlah medali dan trofi yang pernah diraihnya, Tjejep mengaku tidak ingat 100%.

“Sekitar 110 medali. Tapi, sekarang cuma ada 10 kalau tidak salah,” ungkapnya.

Prestasi tertinggi Tjetjep adalah juara 3 Grand Prix Macau pada 1970.

“Dulu saya pernah juara tiga di Macau,” kenangnya.

Empat tahun berselang, Tjetjep terpaksa pensiun dari dunia balap motor. Kecelakaan di GP Batu Tiga, Kuala Lumpur, Malaysia, memastikan kondisi fisiknya tidak dapat lagi beradu cepat di sirkuit.

Meski begitu, Tjetjep tidak pernah meninggalkan dunia balap motor sepenuhnya. Ia masih mengikuti perkembangan dunia balap motor. Mulai dari pebalap yang beradu cepat di MotoGP, perkembangan mesin motor balap, sampai Sirkuit Mandalika.

“Ini luar biasa (Sirkuit Mandalika,red). Ini salah satu yang terbagus. Ada laut, ada gunung. Itu jadi antik. Sama kayak Macau,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here