Khutbah Jumat: Hisab

48
KH Syamsul Yakin

Oleh:KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua MUI Depok

Dalam al-Mawaidz al-Ushfuriyah, Muhammad bin Abi Bakar mengutip hadits Nabi yang bersumber dari Anas bin Malik. Ia bercerita, “Satu waktu Nabi berjumpa Jibril seraya bertanya, “Apakah umatku akan dihisab?” Jibril menjawab, “Betul. Mereka akan dihisab kecuali Abu Bakar. Dia tidak dihisab”.

Lalu diperintahkan kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, masuklah ke surga!” Abu Bakar menjawab, “Saya tidak akan masuk surga sampai orang-orang yang mencintai saya saat di dunia , masuk surga bersama saya”. Hadits ini berbicara tentang dua hal. Pertama, hisab. Kedua, tentang keutamaan Abu Bakar.

Dalam hadits yang ditulis oleh Imam Turmudzi, disebutkan yang pertama kali dihisab adalah shalat. Nabi Bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah berfirman, “Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya”.

Dalam hadits ini juga dijelaskan tentang waktu terjadinya hisab yakni pada hari kiamat. Lebih jelas lagi Allah berfirman, “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)” (QS. al-Haqqah/69: 18).

Namun kaum muslim tidak perlu khawatir, karena amal sebesar biji sawi pun akan diperhitungkan oleh Allah, seperti firman-Nya, “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji sawipun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. al-Zalzalah/94: 6-7).

Untuk itu, penting bagi kita untuk membaca doa yang diajarkan Nabi agar mendapat hisab yang mudah, “Allahumma Haasibni Hisaabay Yasiira” (Ya Allah hisablah aku dengan hisab yang mudah)” (HR. Ahmad).

Berikutnya, hadits di atas berbicara tentang keutamaan Abu Bakar. Dalam kitabnya, yakni al-Mawaidz al-Ushfuriyah, Muhammad bin Abi Bakar menuliskan hadits yang bersumber dari Anas bin Malik yang bercerita, “Satu waktu kami sedang duduk-duduk bersama Nabi. Tiba-tiba seorang laki-laki dari kalangan sahabat datang dalam keadaan betis kaki yang berlumuran darah.

Nabi lalu bertanya, “Ada apa dengan betis kakimu?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku melewati seekor anjing milik seorang munafik, tiba-tiba anjing itu menggigit saya”. Nabi berujar, “Duduklah”. Lalu orang itu di hadapan Nabi.

Namun tak lama berselang, tiba-tiba datang lagi laki-laki lain yang juga dari kalangan sahabat yang juga betis kakinya berlumuran darah. Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku melewati seekor anjing milik seorang munafik, tiba-tiba anjing itu menggigit saya”.

Kemudian Nabi bergegas mengajak para sahabat sambil berujar, “Mari kita cari anjing itu hingga kita dapat membunuhnya”. Semua sahabat kemudian berdiri dengan pedang terhunus.

Ketika mereka berhasil menemukan anjing itu untuk dipenggal dengan pedang, tiba-tiba anjing itu berdiri seraya berkata dengan ucapan yang fasih, “Jangan bunuh aku. Sebab aku adalah seekor anjing betina yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya”.

Nabi bertanya, “Tapi mengapa kamu menggigit kedua orang ini?” Kemudian anjing itu menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh saya adalah anjing betina yang diperintahkan untuk menggigit siapa saja yang memaki Abu Bakar dan Umar”.

Mendengar jawaban itu, Nabi bersabda, “Wahai kamu berdua, tidakkah kamu berdua mendengar yang dikatakan anjing betina ini?” Kedua orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh kami bertobat kepada Allah dan rasul-Nya. Alhamdulillah”.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here