BSSN Identifikasi Potensi Serangan Siber Termasuk Terorisme dan Radikalisme

43
Tampak muka Kantor BSSN yang berada di Jalan Raya Muchtar Bojongsari

Bojongsari | jurnaldepok.id
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melalui National Security Operation Centre (NSOC) telah melakukan monitoring dan identifikasi Potensi Serangan Siber.

Kepala BSSN, Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian di kantor BSSN Bojongsari menyampaikan beberapa poin penting terkait Tren Anomali Trafik Keamanan Siber periode Januari-Desember.

Dikatakannya, BSSN melalui National Security Operation Centre (NSOC) telah melakukan monitoring dan identifikasi Potensi Serangan Siber selama 24/7.

“Hasil monitoring BSSN, tercatat lebih dari 1,6 miliar (1.637.973.022) anomali trafik/serangan siber dengan kategori anomali terbanyak yaitu Malware, Trojan Activity (Aktivitas Trojan), dan Information Gathering (Pengumpulan informasi untuk mencari celah keamanan). Sementara, tren kasus insiden siber di Indonesia diantaranya Web Defacements, Data Breach, Human Operated Ransomware, Advance Persistent Threat,” ujarnya, kemarin.

Sementara, sambungnya, sebaran sektor anomali trafik/serangan siber (dari tertinggi hingga terendah) adalah akademik, sebesar 38,03%, swasta, sebesar 25,37%, pemerintah daerah sebesar 16,86%, pemerintah pusat, sebesar 8,26%, hukum sebesar 4,18%, personal sebesar 2,66%.

“Langkah-langkah teknis yang telah dilakukan BSSN untuk memperkuat Keamanan Siber Nasional diantaranya pemasangan sensor honeynet dan analisis malware, optimalisasi cakupan monitoring NSOC, pembentukan tim respon insiden keamanan siber (CSIRT), pelaksanaan Information Technology Security Asse,” katanya.

BSSN, kata dia, mengimbau kepada seluruh penyelenggara sistem elektronik harus menyelenggarakan sistem elektronik secara andal dan aman serta bertanggungjawab terhadap beroperasinya sistem elektronik sebagaimana mestinya sesuai amanat UU ITE dan PP PSTE.

Mengenai terorisme dan radikalisme di ranah siber, BSSN terus berupaya bekerjasama dengan berbagai pihak dalam menjalankan program literasi keamanan siber sehingga dapat terbentuk budaya keamanan siber yang Tangguh dan dapat membentengi masyarakat dari berbagai ancaman terorisme, radikalisme, dan disinformasi.

“Kami harapkan masyarakat dapat memanfaatkan ruang siber dengan baik, nyaman, aman, dan bertanggungjawab. Oleh karena itu, BSSN mengimbau agar masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan/awareness, karena ruang siber menjadi salah satu media penyebaran dan perekrutan paham terorisme dan radikalisme,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kebijakan dan rogram pemerintah melalui BSSN senantiasa berperan aktif dalam menjalankan tugas keamanan siber yang terkait program-program pemerintah terkini, diantaranya Presidensi G20 dan program pemindahan Ibu Kota Negara (IKN).

“Terkait IKN baru, BSSN bersama kementerian terkait terus menyiapkan hal-hal mendasar yang dibutuhkan sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya,” tuturnya.

Sebagai contoh, kata dia, saat ini Pusat Pengembangan SDM BSSN telah memiliki simulator keamanan siber smart city, yang digunakan sebagai sarana pelatihan keamanan siber bagi SDM.

“Keamanan siber dan sandi guna mempersiapkan pengamanan siber pada Ibu Kota Negara yang baru,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here