Kembali Beredar di Pasaran, Harga Tahu Tempe Mulai Merangkak Naik

94
Terpantau pedagang tempe mulai berjualan di Pasar Cisalak pagi ini

Margonda | jurnaldepok.id
Para pengrajin tempe di Kota Depok akan menaikan harga tempe dikarenakan harga kedlai yang mengalami kenaikan signifikan.

Ketua Umum Paguyuban Dadi Rukun, Rasjani mengatakan, setelah mogok produksi tahu tempe selama tiga hari, mereka akan kembali produksi. Namun dipastikan harga jualnya akan naik.

“Kemarin tempe dijual Rp 4.000 per potong kalau nanti bisa naik jadi Rp 5.000. Kalau untuk tahu ada kenaikan Rp 20.000 per papan,” ujar, kemarin.

Dia menambahkan, masyarakat tahu kalau harga kedelai sebagai bahan pokok pembuatan tahu dan tempe melonjak, sehingga mereka kesulitan menutupi biaya produksi.

Sebagai pelaku usaha kecil mereka hanya ingin agar harga kedelai normal dan tidak tinggi seperti saat ini.

Dirinya mengaku belum bisa menaikkan harga jual tempe dan tahu karena khawatir berdampak pada turunnya jumlah pembeli.

“Masyarakat tahu kalau harga kedelai mahal. Dan kalaupun kami produksi lagi nanti kemungkinan akan naik dan supaya masyarakat mengetahui hal itu,”katanya.

Selama ini, kata dia, solusi yang dilakukan adalah dengan memperkecil ukuran tahu dan tempe yang diproduksi.

Namun terus melonjaknya harga kedelai membuat mereka teriak karena sudah tidak bisa lagi terus memperkecil ukuran tahu dan tempe yang diproduksi, namun juga tidak bisa menaikkan harga jual.

“Kalau kemarin-kemarin ya diperkecil ukurannya. Tapi lama-lama juga harga kedelai makin tidak menutupi biaya produksi,” paparnya.

Per hari, Rasjani bisa memproduksi hingga 130 kilogram kedelai untuk dijadikan tempe. Namun sejak lonjakan harga, dia terpaksa mengurangi jumlah produksi karena modal yang dimiliki tidak sanggup untuk membeli bahan pokok.

“Kami enggak bisa nyetok kedelai untuk produksi karena modalnya enggak sampai, enggak punya modal besar. Biasanya setelah pulang jualan kami langsung belanja kedelai untuk produksi lagi, enggak sampai bisa nyetok kedelai karena modal kami kurang,” ungkapnya.

Dalam paguyubannya, terdapat 120 pengrajin tahu tempe di Kota Depok.

Selama mogok memproduksi, praktis tidak ada penjual yang berjualan di pasar.

“Keluhan kami ya karena harga kedelai mahal sehingga tidak bisa beli kedelai untuk produksi. Kalau tetap produksi tapi ukurannya diperkecil lagi, ya kami takut tidak ada yang membeli lagi,” tuturnya.

Kenaikan harga kedelai menurut dia sudah terjadi sejak dua tahun lalu. Kendati kenaikan tidak langsung meroket, namun tetap menjadi beban biaya produksi.

Dikatakan Rasjani kenaikan signifikan terjadi sejak beberapa hari ini. Semula dia bisa membeli kedelai seharga Rp 8.000/kilogram namun kini menjadi Rp 11.025/kilogram.

“Ini masih ada lonjakan lagi sampai bulan Mei,” katanya.

Dia berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi pada mereka. Misalnya kestabilan harga atau membuat program swasembada kedelai.

“Dalam situasi ini kami berharap agar Menteri Pertanian bisa membuat program swasebada kedelai,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here