Khutbah Jumat: Memahami Ayat-Ayat Kiamat

66
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Secara filosof, kerap ditanyakan apakah kiamat itu? Secara gamblang, Allah SWT menjawabnya, “Yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan” (QS. al-Dukhan/44: 41). Maksudnya, pada saat itu, tidak seorangpun yang bisa menolong orang lain. Orangtua tidak lagi mampu menolong anak-anaknya.

Lebih lanjut, situasi hari kiamat yang memilukan itu difragmenkan Allah SWT secara detil, “Yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk” (Ghafir/40: 33). Pada hari itu, tertutup sudah pintu pertolongan, pengajaran, dan petunjuk.

Pertanyaan filosofis selanjutnya adalah, kapan terjadinya?. Karena Allah SWT tahu manusia ingin tahu soal kapan kiamat akan terjadi, Allah SWT menyatakan, “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, “Bilakah terjadinya? Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia” (QS. al-A’raf/7: 187).

Cepat atau lambat, suka atau tidak suka kiamat pasti datang. Allah SWT tegaskan, “Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman” (Ghafir/40: 59). Bahkan waktunya, menurut Allah SWT sudah dekat, “Telah dekat terjadinya hari kiamat. Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah” (al-Najm/53: 57-58).

Sejatinya yang terpenting bukan bertanya, apa itu kiamat dan kapan terjadinya. Namun yang terpenting adalah bekal apa yang sudah disiapkan untuk menghadapinya. Allah SWT ungkapkan hal ini, “Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu)” (QS. al-Syura/62: 47).

Huru-hara kiamat itu digambarkan al-Qur’an dengan didahului tiupan sangkakala pertama, “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah” (QS. al-Zumar/39: 68). Dalam surah al-Qariah/101 ayat 4-5, Allah SWT ilustrasikan, “Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran. Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan”.

Pada zaman Nabi SAW sudah ada sahabat yang bertanya soal hari berbangkit yang juga sudah dekat, padahal kiamat belum terjadi. Allah SWT abadikan hal ini, “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya” (QS. al-Ahzab/33: 63).

Lau kapan terjadinya hari berbangkit? Allah SWT menjawabnya, “Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)” (QS. al-Zumar/39: 68). Apa maksudnya? “(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur). Tidak suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah” (Ghafir/40: 16). Hari ini sebenarnya yang disebut hari kiamat atau hari berbangkit.

Sebagai evaluasi diri dan motivasi untuk terus memperbaiki diri, secara subtil (lembut dan perlahan), mari dijawab pertanyaan Allah SWT ini, “Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?” (al-Qariah/101: 1-3). Namun tidak boleh berbangga, kendati bisa menjawabnya, tidak jadi garansi selamat dari huru-haranya.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here