Digunakan untuk Tawuran, Geng Jepang Beli Senjata Tajam Ternyata Hasil Kolekan

130
Polisi mengamankan pelaku tawuran dan menyita senjata tajam sebagai barang bukti

Margonda | jurnaldepok.id
Senjata tajam yang digunakan oleh genk Jembatan Mampang (Jepang) untuk melakukan aksi tawuran dengan genk lainnya dibeli secata online dengan harga mencapai Rp 500.000.

Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno, mengatakan, hasil pemeriksaan para remaja yang diamankan ini mengakui memperoleh senjata tajam tersebut dengan cara membelinya di situs jual beli online.

“Jadi meraka ini pesan online untuk kegiatan tawuran ini,” ujar Yogen saat memimpin ungkap kasusnya di Mapolrestro Depok, Pancoran Mas, Selasa (28/12).

Dia menambahkan, untuk membeli senjata tajam senilai Rp 500 ribu seperti clurit besar, mereka kolekan atau patungan dari hasil kerja paruh waktu. Atas temuan ini, Polres Metro Depok akan mengecek toko daring yang menperjualbelikan senjata tajam tersebut.

“Ya nanti akan kami cek pembelian online dari situs mana saja dan akan dilakukan cross check dulu apakah penjualnya legal atau illegal,”katanya.

Dia mengatakan, Tim Patroli Presisi Perintis, Polres Metro Depok mengamankan beberapa orang dan salah satunya remaja di bawah umur yang diduga akan melakukan tawuran karena kedapatan membawa senjata tajam yang diselipkan dipakaian maupun di motornya.

Keterlibatan kelompok yang mengatasnamakan Geng Jembatan Mampang atau Geng Jepang itu diketahui dari jejak digital yang ditemukan penyidik.

“Ya, salah satu tersangkanya kami amankan di Jalan Swadaya, ini admin dari Instagram Geng Jepang,” jelasnya.

Adapun dalam kasus terbaru ini, polisi mengamankan sebanyak enam orang. Mereka terdiri dari dua kelompok berbeda yang diduga hendak melakukan aksi tawuran lanjutan.

“Biasanya, mereka mencari musuh atau lawan lewat media sosial, Instagram. Mereka ini mulai tantangan, biasanya di sosial media maupun di grup WA juga. Kemudian janjian. Ini biasa yang dilakukan dengan mereka. Jadi tim dari patroli siber kami juga sudah melihat itu, sehingga kami bisa menggagalkan aksi tawuran mereka pada dini hari,” ungkapnya.

Ganster tersebut, kata dia, bubar setelah markasnya yang berada di kawasan Pancoran Mas, Depok digerebek polisi pada 2017 silam. Dari dalam kamar kontrakan itu, aparat menemukan sejumlah senjata tajam hingga alat kontrasepsi hingga beberapa botol minuman keras.

“Kelompok ini sempat memiliki sekira 26 anggota, dan itu tidak hanya pria, tapi ada pula dari kalangan perempuan yang usianya pun masih belasan tahun. Yang mengerikannya lagi, mereka juga pernah terlibat dalam lima kali kasus penjarahan. Di antaranya, menjarah warung, tukang gorengan, dan penjual nasi goreng,” terangnya.

Saat itu, mereka juga terlibat perkelahian setelah sempat melakukan aksi konvoi keliling Depok sambil membawa senjata tajam. Bahkan, kelompok yang terdiri dari sekumpulan remaja ini sempat berurusan dengan hukum pidana serius karena terlibat sederet perkelahian hingga aksi penjarahan.

“Salah satunya yang cukup mencengangkan publik adalah ketika mereka merampok toko pakaian di Jalan Sentosa Raya, Sukmajaya, Kota Depok, pada Minggu 24 Desember 2017 lalu,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here