Khutbah Jumat: Berbaur Itu Niscaya

124
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. al-Hujurat/49: 13). Secara natural, ayat ini sangat kental dengan semangat untuk berbaur.

Apalagi di awal ayat, Allah SWT menyeru, “Wahai manusia”. Artinya, ayat ini berlaku universal bagi setiap manusia. Tanpa memandang agama, suku, dan bangsa. Artinya, menurut Wahbab al-Zuhaili dalam Tafsir Munir, manusia diciptakan dari orangtua yang satu, yakni Adam dan Hawa. Denga kata lain, seluruh manusia itu sama.

Berdasar asal-usul yang sama, maka tak bisa dibantah kalau manusia cenderung berbaur. Secara psikologis, manusia ingin mengenal dan dikenal sesamanya. Inilah makna frasa, “Agar kamu saling mengenal”. Laki-laki mengenal perempuan, pun sebaliknya. Bangsa dan suku saling mengenal yang lain. Inilah langkah awal berbaur menurut petunjuk al-Qur’an.

Bagi Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, dengan saling mengenal, manusia diharapkan tidak berbangga-bangga dengan asal-usul mereka. Agama, bangsa, suku yang berbeda adalah entitas yang memperkaya manusia dalam berbaur. Dalam konteks ini, Indonesia adalah laboratorium pembauran raksasa yang diakui dunia.

Bayangkan, di Indonesia hidup rukun dan damai penganut agama-agama, seperti Kristen, Katolik dan Islam yang termasuk rumpun agama Nabi Ibrahim. Berbeda dengan di tempat asalnya, di Indonesia mereka berbaur secara kohesif dan hidup dengan harmonis. Inilah kiranya buah dari kesaktian Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Menariknya, di Indonesia pemeluk rumpun agama Nabi Ibrahim dapat berbaur secara riang gembira dengan agama bumi (non-samawi), seperti Hindu, Budha, dan Konghucu. Hindu yang berasal dari India mendominasi hampir semua lambang dan tulisan di negeri ini. Contohnya adalah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Namun begitu, di dalam sila-sila dari Pancasila yang diserap dari bahasa Sansekerta dan sangat lekat dengan tradisi Hindu dari India, terdapat bahasa lain. Misalnya, dari 26 kata dalam lima sila Pancasila, terdapat delapan kata yang diserap dari bahasa Arab. Artinya, kita tidak hanya berbaur dari sisi agama, dari sisi bahasa kita sudah lebih dahulu berbaur.

Dari orang-orang Tionghoa yang mayoritas beragama Budha dan Konghucu, sejak masa lampau kita menyerap bahasa mereka. Misalnya, “bakiak” (sejenis sandal dari kayu) adalah saksi peradaban Tionghoa yang banyak digunakan di masjid untuk alas menuju tempat wudhu. Bahkan “Tahu” yang kita konsumsi diserap dari bahasa Hokkian, yakni “Tauhu”.

Bagi masyarakat Betawi tempo dulu, untuk memanggil ayah, digunakan kata, “Baba”, yang diserap dari orang-orang Tionghoa. Nyatanya, orang Betawi sangat dekat dengan orang Tionghoa. Terutama untuk urusan berdagang. Maka tak heran kalau hari ini masih ada yang bilang “Jigoh/25, Gocap/50, Cepek/100, Seceng/1000” dan seterusnya.

Tak hanya itu, lembaga pendidikan tradisional tertua di Indonesia, yakni pesantren yang di dalamnya ada kiyai dan santri, secara linguistik melambangkan semangat berbaur. Kata “Pesantren” dan “Santri” adalah bahasa Sansekerta. Sedangkan kata “Kiyai” sebelum terkenal di Jawa, sejatinya berasal dari dialek sejumlah daerah di Asia Tenggara Indochina.

Jadi berbaur itu niscaya. Bukan hanya dari sisi teologis, tapi juga geopolitik dan geostrategik. Dalam tatapan sosio-historis, kita telah berbaur dengan orang Eropa, Arab, Tionghoa, India, dan Persia. Modal teologis, sosial, dan historis cukup bagi kita untuk berbaur. Tentu bangsa ini kian kokoh bila kita bersedia untuk berbaur dan diperbaurkan.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here