Banjir di Depok, Bappeda Identifikasi Penyebabnya dari Hulu Hingga Hilir

46
H Dadang Wihana

Margonda | jurnaldepok.id
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah atau Bappeda Kota Depok, Dadang Wihana mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang melakukan identifikasi kembali penyebab banjir. Menurutnya, hal itu tidak bisa dari lokalitas Depok saja, melainkan harus melihat kondisi hulu ke hilir.

“Hulunya itu dari Cianjur, Kabupaten Bogor, Kota Bogor ke Depok sampai dengan ke hilir. Dengan demikian, untuk menyelesaikan masalah itu perlu menyusun sejumlah agenda,” ujarnya, kemarin.

Ia menyebut ada dua konsepsi yang bisa jadi bahan rujukan, pertama harus merumuskan dulu master plan pengendalian banjir secara utuh. Kemudian, yang kedua dilihat dari segmen atau keadaan di lapangan.

“Nah segmen itu ketika ada banjir kami intervensi, ketika ada longsor kami intervensi. Jadi jangka pendek kami selesaikan spot-spot banjir dan jangka menengahnya harus memliki master plan penanganan banjir secara keseluruhan,”katanya.

Selanjutnya, kata Dadang, adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, utamanya soal membuang sampah.

“Kami tidak bisa menampikan, bahwa banjir terkait dengan prilaku dari kita semua. Misalnya, banjir di Mampang, apa yang terjadi disitu, ternyata banyak tumpukan sampah yang luar biasa,” jelasnya.

Berikutnya yang tak kalah penting, kata Dadang, adalah banyak ditemukan perumahan yang belum memiliki drainase atau tempat pembuangan air secara layak.

“Bappeda saat ini merencanakan kedepannya pembangunan jalan lingkungan harus ada lubang-lubang resapan. Lalu kami juga merencanakan sumur-sumur resapan untuk mengendalikan air hujan yang menyebabkan banjir, (kosepnya) sama dengan DKI,” tuturnya.

Maka, menurut Dadang, ketika bicara banjir tidak bisa parsial Depok saja, tapi harus ada perencanaan yang matang dari hulu ke hilir.

“Mari dililhat secara keseluruhan. Lihat kelebaran Sungai Ciliwung, lihat situ-situ secara keseluruhan, makanya master plan harus ada,” tukasnya.

Lebih lanjut Dadang menganggap, yang terjadi di Depok kebanyakan hanyalah genangan. Namun ia tak menampik jika di beberapa wilayah kerap terjadi banjir.

“Depok untuk banjir itu banyak genangan, contoh di komplek saya ketika hujan satu jam terjadi genangan, tapi 30 menit kemudian selesai. Tapi titik banjir juga cukup banyak. Misalnya di bantaran Kali Pesanggrahan, Kali Angke dan lain-lain,” ungkapnya.

Ketika disinggung apakah banjir juga disebabkan adanya alih fungsi resapan air menjadi wilayah pemukiman? Dadang tak menampiknya.

“Kalau soal lahan alih fungsi dari resapan jadi perumahan saya harus lihat data. Namun karena jumlah penduduk banyak, otomatis itu mempengaruhi lahan resapan,” katanya.

Lebih lanjut saat ditanya berapa perbadingan titik banjir dari tahun ke tahun di Kota Depok, menurutnya itu harus dilihat secara detail.

“Namun yang jelas, Pemerintah Kota Depok bersama pihak terkait sedang melakukan kajian atas persoalan ini,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here