Khutbah Jumat: Mari Membaca

60
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen Pascasarjana KPI FIDKOM
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Membaca adalah kebudayaan manusia yang dilegitimasi al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (QS. al-Alaq/96: 1). Menurut pengarang Tafsir Jalalain, membaca harus dimulai dengan menyebut nama Allah SWT. Karena sejatinya Allah SWT yang telah mengajarkan manusia untuk membaca.

Perintah “iqra” dalam ayat ini, secara leksikal, dapat berarti membaca al-Qur’an, koran, majalah, buku, bahkan membaca tanda-tanda alam. Secara khusus, perintah membaca al-Qur’an adalah “utlu”. Perintah “irqra” ini menjadi fenomenal di kalangan masyarakat Jahiliyah yang buta huruf. Apalagi secara spesifik, ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, Nabi SAW bersabda seperti yang dikutip al-Qurtubi dalam Tafsir al-Qurtubi, “Makhluk pertama yang diciptakan Allah SWT adalah pena. Kemudian, Allah SWT berfirman kepadanya, “Tulislah!” Lalu pena itu menulis segala sesuatu (ketentuan) hingga hari kiamat. Takdir itu (kini) ada di sisi Allah SWT di atas Arasy-Nya”.

Bacaan dan pena seharusnya menginspirasi manusia untuk gemar membaca dan menulis. Sebab membaca itu adalah jendela ilmu. Seseorang itu, baik pikiran, perasaan, dan perbuatannya tergantung buku-buku yang dibacanya. Memilih bacaan yang baik dan bermanfaat tersirat dari perintah agar memulainya dengan menyebut nama Allah SWT yang menciptakan bacaan.

Membaca dan menulis sejatinya saling menguatkan. Kendati tidak setiap orang yang membaca bertujuan untuk menulis, tapi yang pasti orang yang senantiasa menulis pasti gemar membaca. Maka dari itu, sungguh tepat pernyataan Nabi SAW, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Thabrani). Maksudnya, Ilmu dapat abadikan dalam sebuah karya tulis.

Secara ontologis, gemar membaca pada hakikatnya adalah menjalankan perintah “iqra” dan “utlu” di atas. Apalagi perintah membaca tersebut diulangi lagi oleh Allah SWT, “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia” (QS. al-Alaq/96: 3). Tentu bagi yang gemar membaca dan menulis akan mendapatkan pahala dari Allah SWT yang mulia dan istimewa.

Secara epistemologis, ilmu pengetahuan di dalam Islam diperoleh dari al-Qur’an dan hadits, karya-karya para ulama yang memuat berbagai bidang ilmu. Seperti ilmu akidah yang berbicara tentang rukun iman dan rukun Islam. Lalu, ilmu syariah yang menuntun umat Islam untuk beribadah, dan ilmu akhlak yang mengulas soal manisnya iman, ilmu, dan amal.

Secara aksiologis, manfaat gemar membaca tercakup dalam sabda Nabi SAW, “Barangsiapa ingin kebahagiaan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya. Barangsiapa yang ingin kebahagiaan akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya. Barangsiapa yang ingin kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, secara praksis, pahala gemar membaca yang kemudian membuat seseorang mendapatkan ilmu adalah akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Bukan hanya itu, gemar membaca juga menyucikan jiwa dan melerai perselisihan yang selama ini diselesaikan dengan mengandalkan kekuatan otot, banyaknya pendukung, dan peperangan.

Allah SWT berfirman, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (al-Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. al-Jumu’ah/62 :2).

Terakhir, orang yang gemar membaca sejatinya adalah orang yag tidak pernah kenyang terhadap ilmu. Dalam hadits Imam Baihaki, Nabi SAW bersabda, “Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang (salah satunya adalah, orang yang rakus terhadap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya”. Mari bertanya, apakah yang kita baca hari ini?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here