Khutbah Jumat: Mari Belajar Kitab Kuning

29
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen Pascasarjana KPI FIDKOM
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Belajar kitab kuning termasuk bagian dari memperdalam ilmu agama (tafaqquh fiddin). Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka akan diberikan pemahaman mendalam dalam masalah agama. Sesungguhnya ilmu diraih dengan cara belajar” (HR. Bukhari dan Muslim). Salah satunya belajar kitab kuning.

Kitab kuning itu sendiri berisi semua cabang ilmu agama Islam. Seperti tafsir, hadits, fikih, ushul fikih, sejarah, pendidikan, filsafat, kalam, dan tasawuf. Semua tertulis dalam bahasa Arab, baik yang bergaya klasik, pertengahan maupun modern. Untuk bisa memahaminya, diperlukan menguasai morfologi Arab (ilmu sharaf) dan sintaksis Arab (ilmu nahwu).

Untuk tingkat dasar, buku-buku yang mempelajari ilmu sharaf misalnya Amtsilah Tashrifiyah, Kailani, dan Nadzam Maqsud. Sedangkan buku-buku yang mempelajari ilmu nahwu tingkat dasar adalah Mukhtashar Jiddan, Imrithi, Mutammimah dan yang lainnya. Umumnya, buku-buku tersebut dipelajari di berbagai pondok pesantren di Indonesia.

Belajar kitab kuning di pondok pesantren, termasuk bagian dari menjalankan perintah Allah SWT, “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya” (QS. al-Taubah/9: 122).

Dari sini dapat dimengerti bahwa sejatinya belajar kitab kuning adalah untuk melanjutkan estafet keilmuan para ulama. Sejarah membuktikan para ulamalah yang melakukan transmisi ilmu-ilmu agama Islam kepada masyarakat muslim di berbagai belahan dunia. Inilah dakwah Islam yang referensional dan memiliki kekuatan logika multidimensional.

Saat ini lebih dari sejuta santri dari Aceh hingga Papua sedang belajar kitab kuning di ribuan pondok pesantren yang ada di Indonesia. Mereka dijanjikan oleh Nabi SAW, “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu, niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga” (HR. Turmudzi). Dengan kata lain belajar kitab kuning akan beroleh surga.

Untuk itu dalam upaya menjaga khasanah kitab kuning, setiap orang dapat memainkan perannya masing-masing. Pertama, jadilah orang yang mengajarinya apabila memiliki kualifikasi dan kompetensi.
Kedua, apabila tidak, jadilah orang yang sungguh-sungguh mempelajarinya. Ketiga, andaikata tidak sempat dengarkanlah ketika kitab kuning tersebut dibacakan.

Keempat, apabila tidak ada waktu, maka jadilah orang yang menyukai kitab kuning, tidak membencinya atau malah bahkan merendahkannya. Orang yang menyukai kitab kuning adalah orang yang memberi dukungan, baik moral maupun materil. Semoga keempat kelompok ini mendapatkan pahala berupa kemudahan jalan menuju surga yang dijanjikan.

Nabi SAW bersabda, “Jadilah kamu orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (HR. Baihaki). Orang kelima yang celaka ini adalah bukan guru, murid, pendengar, dan bukan juga simpatisan.

Memang tidak semua cabang ilmu yang terdapat di dalam kitab kuning harus dipelajari. Namun paling tidak, menurut Syaikh al-Zarnuji dalam Taklim Muta’allim, seseorang wajib mempelajari ilmu hal. Yakni ilmu yang digunakan untuk melaksanakan perkara yang wajib seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Termasuk soal muamalah, seperti hukum berdagang.

Nabi SAW bersabda, “Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat” (HR. Ibnu Majah). Belajar kitab kuning adalah belajar ilmu yang bermanfaat buat kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu sepantasnya seorang muslim mengambil peran dan kapasitasnya masing-masing.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here