Cegah Aksi Anarkis, MUI Sebut Penyegelan Markas Ahmadiyah oleh Pemkot Depok Sudah Tepat

126
Proses penyegelan yang ketujuh kali terhadap Sekretariat Ahmadiyah oleh Pemkot Depok

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai langkah Pemkot Depok sangat tepat melakukan penyegelan aktivitas di Sekretariat Ahmadiyah, Jalan Raya Muchtar, Kelurahan Sawangan Baru, Sawangan, Depok.

Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian MUI, Prof Utang Ranuwijaya kepada wartawan mengatakan, MUI menilai penyegelan ini dilakukan sebagai upaya antisipasi agar tidak terulang peristiwa kericuhan di Sintang, Kalimantan Barat.

“Kami rasa penyegelan yang dilakukan oleh Pemda Depok sangat tepat, yakni untuk mengantisipasi agar tidak terulang lagi seperti peristiwa di Sintang, Kalbar, beberapa waktu lalu sebagai akibat dari aktivitas dakwah pihak Ahmadiyah yang tidak mengindahkan SKB 3 Menteri,” ujarnya, kemarin.

Utang mengatakan, terdapat larangan bagi Ahmadiyah untuk melakukan kegiatan. Larangan ini tertuang dalam SKB 3 Menteri. Dia menilai, jika Ahmadiyah tidak mematuhi aturan tersebut, ada konsekuensi yang akan diterima.

“Memang berdasarkan SKB 3 Menteri pada poin 2 terdapat larangan kepada Ahmadiyah untuk melakukan aktivitas dakwahnya. Jika ini tidak dipatuhi, berarti Ahmadiyah tidak mematuhi terhadap SKB tersebut,” paparnya.

Ketidakpatuhan ini, kata dia, memiliki konsekuensi hukum bagi Ahmadiyah sendiri, di samping ada konsekuensi lain, yakni adanya reaksi dari umat Islam sekitar yang bisa jadi muncul secara spontan dan tidak bisa diprediksi.

Menurutnya, hal ini menjadi wajar karena adanya kekhawatiran saudara maupun kerabatnya bergabung ke Ahmadiyah.

Utang mengatakan, pihak terkait perlu melakukan pengawasan secara ketat. Ini dilakukan untuk mengantisipasi ketidakpatuhan Ahmadiyah.

“Dalam menghadapi ketidakpatuhan Ahmadiyah, sejatinya pihak-pihak terkait mengawasi secara ketat agar Ahmadiyah menjalankan SKB tersebut, dengan harapan agar umat Islam terjaga dan Ahmadiyah tetap terjaga hak-haknya sebagai warga negara,” katanya.

Sementara itu Ketua MUI Kecamatan Sawangan, KH Abdullah Syafei mengatakan, aktivitas Ahmadiyah di Sawangan telah membuat masyarakat resah.

“Ya, kami memang minta dihentikan. Dasar akidah mereka jelas berbeda dengan Islam sesungguhnya. MUI dan NU sudah memberikan fatwa bahwa Ahmadiyah sesat, bahkan pemerintah pusat, provinsi dan kota juga telah melarang aktivitas mereka,” tandasnya/

Dari itu, Abdullah meminta kepada Ahmadiyah untuk mengikuti aturan yang telah dituangkan baik melalui SKB 3 Menteri, Pergub maupun Perwal.

“Kami juga terus bersinergi dengan MUI Kota Depok untuk melakukan tugas pengawasannya. Kami minta juga MUI kota untuk bekerjasama dengan masyarakat di Sawangan untuk pengawasannya,” katanya.

Sebelumnya, untuk ketujuh kalinya Satpol PP Kota Depok kembali melakukan penyegelan Sekretariat Ahmadiyah yang berada di Jalan Raya Muchtar, Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan.

“Penyegelan ini berdasarkan SKB 3 Menteri, Peraturan Gubernur Nomor 12 Tahun 2011 dan Peraturan Wali Kota Depok Nomor 9 Tahun 2011 tentang larangan kegiatan Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Kota Depok,” ujar M Taufiq, Kabid Penegakan Perda Satpol PP Kota Depok saat melakukan penyegelan, Jumat (22/10).

Dari itu Taufiq meminta kepada jemaat Ahmadiyah untuk menghentikan segala aktivitas mereka.

“Tim pengawasan sudah dibentuk, kami akan terus melakukan pengawasan terhadap mereka,” paparnya.

Menanggapi hal itu Pendamping Jemaat Ahmadiyah, Syamsul Alam Agus mempertanyakan substansi dari penyegelan tersebut.

“Ini menegaskan tindakan intoleransi dari Pemkot Depok. Seperti diketahui jaminan beragama dan berkeyakinan dijamin oleh UUD 1945 dan HAM,” ungkapnya.

Ia memastikan bahwa pihaknya akan tetap bertahan di lokasi tersebut.

”Dalam SKB 3 Menteri yang dilarang itu adalah penyebaran paham oleh Jemaat Ahmadiyah. Disini maksudnya adalah orang-orang yang sudah memiliki keyakinan. Selama 10 tahun Jemaat Ahmadiyah ini tunduk kepada SKB 3 Menteri dengan tidak melakukan itu,” pungkasnya. n Aji Hendro | Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here