Khutbah Jumat: Dimensi Komunikasi Shalat Jumat

45
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen Pascasarjana KPI FIDKOM
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam Maraqi al-Ubudiyah, Syaikh Nawawi Banten menulis bahwa hari Jumat adalah hari raya di antara berbagai hari raya bagi orang-orang beriman. Bahkan di sisi Allah SWT, hari Jumat lebih agung dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hari Jumat yang mulia ini, semata-mata dikhususkan oleh Allah SWT untuk umat Nabi SAW.

Dalam sudut pandang komunikasi massa, shalat jumat jadi ajang paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan agama, selain bernilai silaturahim dan ibadah secara ritual-individual-formal. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah” (QS. al-Jumu’ah/62: 9).

Menurut pengarang Tasir Jalalain, yang dimaksud dengan “bersegeralah kamu kepada mengingat Allah” adalah cepat-cepatlah berangkat untuk shalat Jumat ke masjid terdekat. Bahkan bagi yang sedang bertransaksi, Allah SWT meminta untuk meninggalkannya, “Dan tinggalkanlah jual beli” (QS. al-Jumu’ah/62: 9). Ini menandakan urgensitas shalat Jumat.

Saking pentingnya shalat Jumat, Imam al-Ghazali dalam Bidayah al-Hidayah, menganjurkan agar mempersiapkan shalat Jumat sejak hari Kamis. Misalnya dengan menyiapkan pakaian, memperbanyak tasbih dan istighfar. Bagi yang berpuasa pada hari kamis, hendaklah ia berniat melaksanakan ibadah puasa pada hari Jumat. Jika tidak, maka tidak.

Menurut Imam al-Ghazali, apabila telah datang waktu subuh, maka sangat dianjurkan untuk mandi. Nabi SAW bersabda “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi shalat Jumat, maka hendaklah ia mandi” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari sisi ini, orang-orang yang shalat Jumat telah terjamin higinitas anggota tubuhnya dari berbagai kotoran.

Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa mandi di hari Jumat, sikat gigi, memakai parfum, dan memakai pakaian paling bagus yang dimilikinya, pergi shalat Jumat dan tidak melangkahi bahu orang, kemudian shalat sunah dan mendengarkan khutbah sampai selesai, serta tidak berbicara, maka diampuni dosanya antara Jumat itu dan Jumat sebelumnya” (HR. Ahmad).

Tak hanya itu, pada hari Jumat juga dianjurkan memperbanyak bershalawat. Nabi SAW bersabda, “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jumat. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jumat. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti” (HR. Baihaki).

Hanya saja dalam pelaksanaan shalat Jumat sangat ditekankan untuk menjaga adab-adabnya. Nabi SAW bersabda, “Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jumat, “Diamlah”, sementara imam sedang memberikan khutbah, sungguh kamu sudah berbuat sia-sia” (HR. Bukhari dan Muslim). Umumnya ini dilakukan anak-anak remaja yang masih perlu bimbingan.

Dalam sudut pandang sosiologi pedesaan, shalat Jumat yang dilaksanakan di suatu kampung setiap seminggu sekali akan dapat mempererat ukhuwah. Di antara sesama masyarakat bisa saling becengkerama sebelum dan sesudah shalat Jumat mengenai keluarga, pekerjaan, atau sekadar bertegur sapa. Keaadaan ini membuat kehidupan jadi harmonis dan indah.

Bagi kaum urban dan komuter yang bekerja setiap hari di kantor-kantor di perkotaan, shalat Jumat jadi semacam oase yang dirindukan setelah hampir sepekan menguras pikiran. Shalat Jumat juga dipercaya dapat mengembalikan kebugaran untuk kembali bekerja. Untuk itu, sudah sepantasnya kantor-kantor menyiapkan tempat shalat Jumat yang memadai.

Bagi kita yang hendak bersedekah lebih banyak, seusai shalat Jumat sekarang sedang tren panitia memberi nasi bungkus bagi jamaah. Inilah adalah kesempatan besar bagi kita untuk memberi makan. Insya Allah kita mendapat pahala berupa perlindungan di bawah Arsy nanti pada hari kiamat. Inilah pahala di atas pahala shalat Jumat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here