Eksekusi Bangunan Dewi Sartika, Tim Jaguar Temukan Senjata Tajam

30
Petugas dari PN Depok saat mengeksekusi bangunan Dewi Sartika

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Petugas menemukan senjata tajam tidak bertuan saat melakukan eksekusi bangunan di Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Pancoran Mas.

Katim Jaguar, Winan Agus kepada wartawan mengatakan, anggotanya menemukan senjata tajam seperti sumpit dan tombak dimana kepemilikannya tidak diketahui.

“Tidak ada yang mengaku siapa yang memiiliki senjata tajam tersebut,” ujarnya, Kamis (14/10).

Dia menambahkan, senjata tersebut kemudian dibawa ke Polres Metro Depok.

“Untuk pengamanan jalannya eksekusi lahan oleh Pengadilan Negeri Kota Depok, kami bekerjasama dengan Polres Metro Depok berjumlah 75 personil diluar dari anggota Koramil, Satpol PP, total sekitar 100 anggota,” jelas Kabagops Polres Metro Depok, AKBP Ojo Ruslani.

Dia menuturkan eksekusi berjalan lancar dan aman tanpa ada dorongan dari pihak tergugat.

“Para juru sita eksekusi PN Depok setelah membacakan surat penetapan eksekusi dan kuasa hukum terduga mendengarkan, akhirnya menerima dan semua barang yang ada di dalam rumah satu persatu diungsikan oleh tim eksekusi,” tambahnya.

Sementara itu kuasa hukum tergugat Ny Etty Samuel, Bambang Trisnanto mengatakan, persengketaan kasus perebutan lahan antas milik kliennya dengan keponakan dari Ny Etty Samuel sudah berlangsung sejak tahun 2015.

“Gugatan kami PN. Depok No. 43/pdt.g 2015/PN DPK, kalah dalam persidangan dengan terlapor dari keponakan Ny Etty Samuel yaitu Leornard Martinus Johan Samuel,” jelasnya.

Bambang menyebutkan, pihaknya mengajukan banding dalam kasasi kalah.

“Klien kami memiliki SHM konversi dari surat Letter C yaitu no 986/Depok, dengan luas 1.250 M2 atas nama Alm Ny E. Samuel,” tambahnya.

“Eksekusi dilakukan berdasar bunyi dari putusan surat girik letter B dari terlapor. Tapi secara hukum kepemilikan surat SHM konversi dari letter C hak paten kepemilikan dari suatu lahan atau sebidang tanah,” tuturnya.

Dalam gugatan Pengadilan Negeri Kota Depok, lanjut Bambang, adalah perihal tentang pembagian harta gono gini dengan keponakan.

“Alasan terlapor Lenoard pada awal mengaku membeli lahan seluas 1.250 m2 dari suster belanda yang pernah bekerja dengan Ny Etty, namun suster tersebut bekerja dengan Ny Etty saat itu di tahun 80-an. Kami taat hukum namun minta kebijakan dari PN Depok untuk menunggu gugatan yang sudah kami ajukan lagi melalui aplikasi Ecor yang sampai sekarang ini belum keluar nomornya,” ungkapnya.

Sementara itu perwakilan dari pemohon Mayang menyatakan eksekusi pengosongan dinilai sudah sesuai dengan proses hukum. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here