Sebelum Masuk Kelas, Sekolah AMEC Budayakan Siswa & Guru Berjemur 1 Jam

38
Kegiatan belajar mengajar di Sekolah AMEC

Bojongsari | jurnaldepok.id
Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas yang dilakukan sejak empat hari lalu, betul-betul mengubah kebiasaan baru bagi tenaga pendidik dan siswa. Meski terasa asing, namun mereka rela menjalani itu semua demi kesehatan.

Hal itulah yang dilakukan oleh sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Almamun Education Center (AMEC). Dimana, sebelum masuk kelas para siswa dan guru kini harus berjemur dahulu di halaman sekolah.

“Iya, PTM Terbatas kami mulai dengan berjemur bersama antara siswa dan para guru. Tujuannya tak lain agar imun meningkat dan konsumsi Vitamin D dapat terbentuk,” ujar H Ma’mun Ibnu Ridwan, Direktur Sekolah AMEC kepada Jurnal Depok, Rabu (6/10).

Ia menambahkan, waktu berjemur dilakukan selama satu jam sebelum masuk ruang kelas yakni dimulai pukul 07.30-08.30WIB.

“Bukan hanya semata-mata berjemur, tapi juga berolahraga dan permainan edukasi untuk siswa agar mereka bahagia. Karena anak-anak tetap harus gembira meskipun PTM Terbatas. Di jam itu anak-anak bisa bergerak dan berinteraksi dengan yang lainnya, meskipun harus jaga jarak. Ini kami sebut juga sebagai pembiasaan karakter,” paparnya.

Tak hanya itu, dalam menerapkan protokol kesehatan, pihaknya juga menerapkan pemeriksaan sebanyak tiga lapis. Dimulai dari pintu masuk gerbang sekolah (cek suhu tubuh), pemeriksaaan barang bawaan (makan dan minum) oleh guru serta pemeriksaan kelengkapan prokes (masker dan sanitzer) oleh wali kelas.

“Bahkan untuk cuci tangan diwajibkan enam kali, mulai dari masuk ruangan, jam istirahat hingga jam pulang sekolah. Kalau hari pertama tidak bawa masker kami berikan, tapi jika hari kedua tidak bawa dengan alasan lupa, maka kami pulangkan. Prokes ini untuk keamanan bersama,” jelasnya.

Lebih lanjut Ma’mun mengatakan, untuk kapasitas ruangan pihaknya terpaksa harus mengurangi sebanyak 50 persen. Biasanya, kata dia, satu kelas diisi oleh 25 siswa, namun saat PTM Terbatas ini hanya diisi 12 siswa dalam satu kelas.

“Begitu juga dengan jam belajar, biasanya sehari kami terapkan epat jam, kini hanya dua jam. Siswa masuk seminggu tiga kali, sisanya belajar daring. Namun begitu, guru tetap full day dalam mengajar, karena harus mengajar siswa yang daring juga,” terangnya.

Terkait vaksinasi, sambungnya, pihaknya telah melakukan vaksinasi terhadap 100 persen siswa kelas VI dan puluhan tenaga pendidik.

“Guru yang ada di kami sebanyak 42, staf sekolah 12 dan yayasan ada 6 orang, semuanya sudah 100 persen divaksin, bahkan sudah dosis kedua,” katanya.

Tak hanya guru, siswa dan staf pengajar, pihaknya juga mewajibkan vaksinasi bagi orang tua siswa yang anaknya saat ini duduk di kelas VI.

“Kami bekerjasama dengan Polsek Sawangan sudah menggelar vaksinasi baik untuk internal kami maupun eksternal atau warga di lingkungan sekolah,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here