Gawat! Akibat Anaknya Sekolah Daring, 75,34% Emak-Emak Alami Stres

152
Kegiatan webinar dalam persiapan sekolah tatap muka

Beji | jurnaldepok.id
Orang tua siswa khususnya ibu-ibu mengalami stress saat mendampingi anaknya saat mengikuti kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Psikolog Universitas Indonesia (UI), Diennaryati Tjokrosuprihatono mengatakan, Mendikbud, Nadiem Makarim mengungkapkan bahwa Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas harus segera dimulai.

“Karena hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir dua tahun Belajar Dari Rumah (BDR), mengakibatkan hilangnya masa pembelajaran (learning loss) karena sulit mengukur hasil pembelajaran anak yang tidak terkontrol pelaksanaan tugasnya. Belum lagi karena kurang meratanya jaringan internet dan lainnya,” ujar Diennaryati, kemarin.

Selain itu, kata dia, pembentukan karakter anak terganggu karena stress yang dialami anak maupun orang tua. Anakpun mengalami kurangnya kemampuan bersosialisasi karena tidak dapat berinteraksi dengan teman sebaya.

Ia menambahkan, dari hasil penelitian Fakultas Psikologi UI terjadi peningkatan stress sampai 3 kali dan 69% disebabkan oleh problem psikologis.

“Bahkan perempuan yang bekerja, tingkat depresinya lebih tinggi daripada karyawan laki-laki. Dari penelitian tentang stress ibu dalam pendampingan anak SD belajar di masa pandemi diperoleh hasil bahwa 75,34% mengalami stress sedang dan 10,31% mengalami stress berat,” paparnya dalam webinar dengan tema ‘Anak Kembali Sekolah Tatap Muka. Ya atau Tidak? Suatu bahasan Psikologis, Senin (13/9).

Ia menjelaskan, orang tua yang stress akan berdampak pada anaknya yang pada akhirnya juga akan mengalami stress.

Sementara itu Penelitian Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jaya menemukan bahwa 90% orang tua sangat mementingkan kesehatan, tapi disisi lain sampai 70% khawatir akan turunnya pendidikan bagi anak-anaknya.

“Dari sisi anak, yang mengkhawatikan adalah kurangnya kesempatan untuk berinteraksi sosial dengan teman sebaya menyebabkan mereka menjadi kurang mampu berempati, kurang melatih pengendalian emosinya, kurang berkesempatan untuk mengembangkan rasa solidaritasnya serta kurang mampu untuk menyesuaikan diri,” katanya.

Situasi ini, kata dia, membuat mereka menjadi lebih akrab dengan gadget. Karena saat ini gadget adalah teman mereka, bahkan sampai bisa menggantikan kehangatan orang tua.

“Namun demikian, tidak semua anak bisa mengikuti PTM, karena ada banyak hal yang menjadi pertimbangan orang tuanya,” ungkapnya.

Dia mengatakan bahwa dalam situasi krisis seperti ini, orangtua, guru dan sekolah harus sama-sama sebagai pembelajar dan bekerjasama untuk kepentingan bersama sehingga persiapan bukan hanya dari sekolah dan guru, tapi juga orangtua dan anak.

“Sekolah memenuhi fasilitas prokes sesuai dengan persyaratan kelayakan dari Kemendikbudristek,” tuturnya.

Orang tua dan guru berdiskusi untuk kesepakatan tentang prokes sedangkan anak sendiripun harus mampu meregulasi diri dan bertanggung jawab.

“Untuk mengantisipasi pengajaran hybrid sejalan dengan pandemi yang mungkin akan berlangsung lama, maka perlu diadakan survey tentang mata pelajaran mana yang dirasakan lebih nyaman secara daring dan mana yang tatap muka,” tambahnya.

Jika nantinya dilakukan PTM, maka ada beberapa hal yang harus dipastikan. Antara lain anak sudah mengerti tentang bahaya dan cara penularan Covid-19 serta sudah mengerti tentang prokes 5M.

Kemudian, memastikan kesiapan sekolah untuk PTM dengan adanya komunikasi dua arah dengan guru, bahkan bila mungkin orang tua bisa membantu guru untuk menjaga prokes siswa di sekolah, terutama untuk anak PAUD/TK dan SD.

“Ada baiknya juga disarankan pada guru agar memberi jeda antar pelajaran 1 dan ke 2 selama 15 menit sehingga anak bisa relaks sedikit dan tidak terlalu terpapar radiasi gadget yang bisa berakibat pada kesehatan. Karena bila tidak sehat akan semakin sulit lagi belajar,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here